PERINGATI HPSN, MAPALA SAGARMATHA GELAR AKSI BERSIH-BERSIH

Ket. Foto : Sejumlah mahasiswa lakukan aksi bersih-bersih di Kawasan Faperta (Foto : Dok. Mapala Sagrmatha)

Tak ingin melewatkan momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)  Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Santai Tegar Selamat dan Berhasil (Sagarmatha) menggelar aksi bersih-bersih di Kawasan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Tadulako (Untad) pada Jumat – (21/02).

Aksi bersih-bersih tersebut dilakukan  di tiga titik yaitu di Gedung A, B, dan C Faperta. Tidak hanya Sagarmatha tetapi dari lembaga lain pun turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Muhammad Rifai selaku ketua umum Sagarmatha menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan suatu langkah untuk menyadarkan mahasiswa pertanian terkait permasalahan sampah yang masih dianggap remeh. Sehingga ia berharap, dari pihak birokrasi menerapkan peraturan mengenai permasalahan sampah yang saat ini terjadi.

“Sekarang banyak mahasiswa yang hanya tahu buang sampah sembarangan, tanpa tahu cara bertanggung jawab. Sehingga berangkat dari kegiatan ini, saya berharap dari pihak birokrasi menerapkan peraturan mengenai pemberian konsekuensi pada masyarakat pertanian yang membuang sampah sembarangan. Selain itu, dibutuhkan kesadaran dari masing-masing pihak untuk tidak membuang sampah tidak pada tempatnya,” terang Rifai.

Senada dengan Rifai terkait kesadaran masyarakat pertanian, Safwan sebagai ketua panitia turut menghimbau masyarakat pertanian agar mampu meningkatkan kesadaran serta kepeduliannya terhadap sampah.

“Saya berharap mahasiswa pertanian bisa sadar untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat karena oleh pihak fakultas juga telah menyediakan tempat sampah di tiap gedungnya,” tutur Safwan.

Mapala Sagarmatha merasa turut bertanggung jawab memberikan edukasi kepada masyarakat pertanian agar peduli terhadap permasalahan sampah. Sehingga aksi tersebut dirangkaikan dengan beberapa kegiatan yaitu menyebar pamflet dan pemasangan papan info, terkait  edukasi sampah yang dapat terurai dan yang tidak dapat terurai di kawasan Faperta.

Salah seorang peserta aksi, Moh Ikbal menjelaskan bahwa masalah yang timbul dalam kawasan Faperta adalah kesadaran diri masyarakatnya yang kurang dalam memperhatikan sampah. Selain itu, Moh Ikbal berharap diadakan tempat sampah untuk membedakan sampah yang tidak dapat diurai dan yang dapat diurai.

“Menurut saya, masalah sampah yang terjadi dalam kawasan Faperta, timbul dari inisiatif masyarakat Faperta sendiri, yang tidak ingin repot mencari tempat pembungan sampah yang sudah disediakan oleh Fakultas. Selain itu, harus ada tekanan khusus dari pihak Faperta untuk meminimalisir sampah yang berserakan di lingkungan Faperta. Saya juga berharap diadakannya tempat sampah yang membedakan sampah yang dapat dan tidak dapat diurai, untuk membantu pekerjaan orang yang kadang memungut sampah seperti botol plastik,” jelas Ikbal. NZN