Syadila Syahrul, Duta Bahasa Sulawesi Tengah “Ingin Ada Lembaga Debat di FISIP”

Mendengar nama Syadila Syahrul mungkin sudah tak asing lagi bagi banyak mahasiswa di Universitas Tadulako (Untad) khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip). Lahir sebagai anak tunggal pada 25 November 2000 di Makassar, dari rahim seorang perempuan bernama Mardiana, dan Ayahnya bernama Syahrul Alamsah. Wanita yang mulai berkuliah di Bumi Tadulako tahun 2018 pada Program Studi (Prodi) Administrasi Publik dikenal sebagai sosok mahasiswa yang gemar mengikuti kegiatan berskala Nasional maupun Internasional.

Dila sapaan akrabnya, mulai menjalani pendidikan formal di TK Al – Abrar Makassar. Sejak kecil perempuan yang bercita-cita menjadi artis, astronaut, penyanyi dan dokter tersebut memang sudah mulai menorehkan prestasi di bidang akademik. Hal ini dibuktikan dengan disabetnya peringkat 1 dan 2 ketika bersekolah di SD Inpres Malengkeri 1 Makassar dan selalu masuk peringkat 10 besar ketika ia berpindah sekolah di SD Inpres 5 Lolu Palu.

Setelah menyelesaikan studi di jenjang Sekolah Dasar, ia melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP dan SMA Al-Azhar Mandiri Palu. Di masa SMA, wanita yang mengidolakan dirinya sendiri itu makin gemar mengikuti beragam kegiatan dan tidak jarang mengukir prestasi membanggakan dari kegiatan yang ia ikuti tersebut. Prestasi-prestasi itu yakni, menjadi peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di Makassar, peserta Lomba Cepat Tepat PPKN di Untad, Juara 3 Provinsi lomba Cepat Tepat Kimia, juara 1 Nasional LCC 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Perwakilan Republik Indonesia (MPR RI), peserta Parlemen Remaja oleh Sekretariat Jendral Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) dan peserta kegiatan Forum Pelajar Indonesia ke-9 di Jakarta yang diadakan oleh Indonesia Student and Youth Forum (ISYF).

Pengumuman kelulusan pada sebuah Universitas impian adalah hal yang paling mendebarkan bagi banyak orang setelah lulus SMA, termasuk Dila. Namun ini adalah fase paling menyedihkan di hidupnya, karena menjadi orang yang tergolong high achiever dan berusaha belajar dengan tekun di tempat les masih belum bisa meluluskan dirinya ke Universitas terbaik yang menjadi impiannya.

“Titik terendah dalam hidup saya itu saat masuk kuliah, karena saat itu saya tidak lulus di Universitas yang saya inginkan. Padahal saya sudah les di 4 tempat, sudah berdoa dan usaha maksimal. Karena awalnya saya adalah orang yang tergolong ke orang yang bisa dibilang high achiever di sekolah, namun tiba-tiba saya tidak mendapatkan apa yang saya mau, maka itu buat saya down dan akhirnya saya harus kuliah di Untad yang sebelumnya bukan menjadi tujuan saya,” ujarnya dengan nada yang sedikit mendayu-dayu.

Namun ia percaya bahwa semua yang telah terjadi pasti sudah direncanakan oleh Tuhan, maka ia bersyukur atas jalan yang sudah dipilihkan untuk dirinya.

“Saya yakin kalau dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan, dan  saya yakin pasti ada yang harus saya lakukan serta ada alasan kenapa saya harus disini.  Sekarang setelah mengikuti event-event yang telah saya ikuti semenjak berkuliah, maka saya yakin bahwa ini pasti adalah alasannya, ternyata ini yang tuhan mau, Ia tahu apa yang butuhkan,” tuturnya dengan senyum di wajah.

Pemenang 1 Duta Bahasa Sulawesi Tengah itu mengaku, setelah memasuki jenjang kuliah dirinya makin gemar untuk mengikuti kegiatan-kegiatan nasional dan internasional. Seperti kegiatan World Herritage Camp Indonesia (WHCI)  yang adakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Bali, kegiatan MUN YOUTH RESEARCH CHAMPIONSHIP di Malaysia dan baru-baru ini Lomba debat Komisi Pemilihan Umum Tingkat Perguruan Tinggi Se-Kota Palu serta beberapa kegiatan lainnya.

Untuk organisasi, wanita yang ingin berkarier di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) aktif di IKA Dubas Sulawesi Tengah, Sanggar Seni Kaktus Fisip Untad, dan Forum anak “Nosarara” Kota Palu. Jika ditanya mengenai proses dan prestasi yang sulit diraih, ia mengatakan hal itu adalah menjadi seorang Duta Bahasa dan Juara dalam lomba LCC 4 Pilar MPR RI.

“Saya setiap mengikuti kegiatan tidak terlalu melihat dari hasil yang saya dapatkan, namun saya sering melihat dan menikmati prosesnya untuk mendapatkan itu. Jadi jika melihat proses yang sulit ada dua kegiatan, yaitu Duta Bahasa dan LCC 4 Pilar. Kalau Duta Bahasa itu karena saya harus melawan stigma masyarakat, dimana duta-duta itu harus tinggi, harus cantik, dan harus putih. Kemudian kalau lomba LCC itu dimana harus bisa bekerja sama dalam tim, karena saya tumbuh sebagai anak tunggal, jadi pasti ada sisi egoisnya kan. Jadi di tim saya harus belajar bagaimana menekan ego pada diri dan itu adalah hal yang sulit,” ungkapnya.

Ia bercerita, meski sering mengikuti kegiatan, Dila terkadang tidak memberi tahu kedua orang tuanya saat ia mendaftar ataupun sudah masuk pada tahap seleksi. Karena ia sebagai anak tunggal pasti orang tuanya akan bersikap sedikit protektif terhadapnya.

“Kadang saya ikut kegiatan jarang kasih tahu orang tua, nanti sudah lulus baru saya kasih tahu. Semisal saya ingin mengikuti kegiatan atau lomba di Jakarta atau kota-kota lain. Biasa kan orang tua bilang nda usah ikut itu nak atau sedikit membatasi, jadi saya tidak pernah mau bilang ke orang tua. Jadi saat lulus dan sudah ada tiketnya beserta tanggal keberangkatan baru saya bilang orang tua,” ucap Dila.

Mahasiswa penerima beasiswa PPA dan beasiswa XL Future Leaders tersebut juga menceritakan bahwa sosok ibu di matanya adalah orang yang Friendly, cerewet, protektif dan selalu menjadi orang yang selalu mendukung dirinya. Sementara itu, untuk sosok ayah menurutnya adalah orang tegas.

“Sosok ibu, tipikal orang yang cerewet, namun friendly, dan bukan tipe orang yang mengekang cuma dia lebih protektif. Ibuku itu juga jika saya balik kerumah selalu dipeluk-peluk terus didoakan terus. Dila jadi sukses, dila jadi hebat, dila jadi orang kaya, dila jadi orang mandiri, selalu diberi kata-kata suportif seperti itu. Kalau ayah orang yang tegas dan ayah selalu bilang kalau pilih sesuatu harus siap terima konsekuensinya,” jelasnya

Pemegang slogan hidup, harus bisa berdiri di kaki sendiri memiliki rencana untuk membuat lembaga debat di FISIP dan ingin menjadi orang yang bisa memotivasi anak-anak Kota Palu agar bisa semangat dan tidak pesimis jika ingin berkompetisi dengan anak-anak dari kota lain dalam kompetisi atau kegiatan-kegiatan nasional. AW

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous articlePengantar Redaksi
Next articleDIA DISINI 2