Waspada Boleh, Pantoa Jangan

Wabah dunia, COVID19 yang mulai ada sejak tahun 2019, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Penyebarannya tidak dengan pelan, hanya sepersekian detik, berbagai media mengabarkan perkembangan kasus COVID19.

Sejak kasus COVID19 pertama kali merebak di Wuhan, China, Negara +62 ini terlalu angkuh dan sombong. Tidak mungkin virus itu berkembang biak karena tidak dapat bertahan lama dengan suhu Indonesia yang panas Naudzubillah, kata netizen.

Sikap itu kemudian dengan mudahnya berkembang di Bumi kaktus, Kota Palu khususnya dan Sulawesi Tengah umumnya. Suhu kota Palu yang diatas 30 derajat itu, sangat tidak mungkin. Kita lupa bahwa pariwisata menjadi pintu orang-orang berinteraksi. Di Indonesia, seluruh wilayah menyuguhkan pariwisata alam yang luar biasa, Bali misalnya. Orang-orang yang berpergian ke luar negeri, sama rentannya dengan orang-orang yang berdatangan dari luar negeri.

Lalu kota Palu? Setelah mendapat kabar ada pasien suspek COVID19, kita ketakutan. Ketakutan itu meningkat menjadi sedikit panik bercampur gusar karena harga beberapa bahan meningkat. Bahkan kosong di segala warung-warung yang cukup besar, pusat perbelanjaan tradisonal dan pusat perbelanjaan modern. Anti septik, masker, bahkan jahe dan beberapa bahan memasak lainnya yang dipercaya menangkal COVID19 melonjak tinggi. Anti septik dan masker yang mulai kosong dimana-mana. Sedangkan Jahe yang awalnya 40 ribu satu kg mrningkat mulai dari 70 ribu 1 kg hingga 150 ribu. Menyedihkan bin menakutkan.

Masuknya pasien yang dirawat di RS Undata itu memicu surat edaran Gubernur Sulteng yang melarang para ASN melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sementara beberapa kota lain sudah lockdown seperti Solo. Sebelumnya juga, seluruh pimpinan Institusi pendidikan mulai dari SD hingga Perguruan Tinggi, termasuk Universitas Tadulako, menghimbau seluruh siswa dan mahasiswa untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Kuliah dan belajar daring.

Kampus Untad sepi. Tempat parkir kendaraan mahasiswa di Fakultas yang sebelumnya berdesak-desakkan, kini sepi, tersisa satu atau dua kendaraan saja. Bahkan tidak ada sama sekali.  Sepi sebenar-benar sepi. Lalu ketakutan beberapa orang mulai saling menjangkiti yang lainnya. Bayang-bayang Palu sebagai kota mati seperti suasana pasca gempa, tsunami dan likuifaksi, membayang di pelupuk mata.

Di lain waktu dan tempat, kita menghakimi orang-orang yang sedang menjalani perawatan. Termasuk pasien di RS Undata dan puluhan orang yang sedang dalam pengawasan, sebab baru saja datang dari luar negeri. Bahkan dengan kejam menyumpahi mereka. Lebih kejam lagi, orang-orang yang masih sibuk berpikiran bahwa ini adalah konspirasi pihak tertentu karena persaingan politik, dan sibuk berkomentar distatus facebook, ketimbang waspada.

Kita, orang Palu, terlalu pantoa[1]. Pasien baru suspek, kita sudah pusing dan ketakutan setengah mati. Ketakutan-ketakutan itu membuat psikologi kita terganggu. Membikin cemas berlebihan. Sehingga kita jadi kalut dan tidak dapat berbuat apa-apa sebagai tindak penanganan. Waspada boleh, tapi pantoa jangan. Ikuti himbauan pemerintah setempat, jaga kebersihan, jangan keluar rumah jika tidak penting, dan segala penanganan pencegahan COVID19. Please jangan pantoa, tugas kita bukan itu di tengah wabah ini. Palu yang panas suhunya, tidak menutup kemungkinan bebas dari COVID19. Mari tetap waspada.

 

[1] Sok tahu

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here