DIA DISINI 2

Adrian Christianto Katili

“Saat tiba masanya, kau akan menjadi anak yang membanggakan papa dan mama,” kata seorang pria yang dipanggilnya sebagai Papa, dengan belaiannya di kepala Putera. Waktu itu ia tak tahu kalau membanggakan orang tua sama artinya dengan mati.

***

Reporter di televisi tampak berada di depan rumah Putera. Rumah itu kini dikelilingi garis polisi. Beberapa tetangga sekitar berkerumun mencari tahu. Di tengah pandemi yang sedang terjadi, tentunya hal ini menjadi sangat menggemparkan tetangga sekitar.

“Pembunuhan pasangan T dan W, dilaporkan sebagai salah satu kasus pembunuhan tersadis. Hingga saat ini, polisi masih mencari tahu pelaku dan motif pelaku melakukan tindak kriminal ini,” ucap reporter itu lengkap dengan masker dan sarung tangannya, di depan para kameramen.

“Kedua jenazah korban ditemukan di dapur, dengan beberapa luka tikam. Waktu kejadian, anak dari kedua korban yang berusia enam tahun melihat langsung pembunuhan tersebut terjadi.”

Terlihat beberapa tenaga medis yang lengkap dengan APD-nya keluar membawa sepasang suami isteri yang tak lagi bernyawa.

***

Putera terbangun di tengah malam. Lagi-lagi mimpi buruk itu datang. Putera turun dari kasurnya. Didapati kamar kedua orang tuanya sedikit terbuka. Tampaknya mereka belum tidur.

“Sebentar lagi Ma, sebentar lagi waktunya,” kata Papa pelan.

“Aku tahu waktu ini akan tiba, semoga anak kita siap,”  balas Mama.

Putera terlalu kecil untuk mengerti apa maksud percakapan itu. Ia yang akhir-akhir ini, selalu mendapatkan mimpi buruk terlalu takut untuk tidur sendiri.

***

“Apa yang kau lihat, Nak?” tanya wanita di depan Putera.

Putera menggeleng. Matanya mulai berair. Kedua tangannya bergetar. Wanita itu lalu memeluknya.

“Tak apa, kau bisa bercerita saat kau sudah merasa lebih baik,” kata wanita yang tak dikenali Putera.

***

“Putera, Putera, ayo bangun, Nak,” ucap Mama lembut.

Putera mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terlalu berat untuk bangun. Ia hendak kembali tidur, namun ayahnya mengangkatnya.

“Aku masih ngantuk, kita mau kemana sih?” Tanya Putera sedikit melindur.

“Kita ada surprise untuk kamu sayang,” jawab Mama.

“Tapi kan hari ini bukan ulang tahun Putera,” kata Putera tak semangat.

Mama membelai wajahnya, “Tenang aja, kamu pasti suka kok.”

***

“Dia anak yang baik , hanya saja dia sedikit pendiam dan sering menangis,” jelas wanita itu.

“Kenapa bisa begitu, mbak?” tanya seorang lelaki yang duduk bersama isterinya.

“Putera menjadi yatim piatu karena kejadian yang mengerikan. Kedua orang tuanya dibunuh secara sadis di depan matanya. Hal itu begitu mengguncang batinnya. Apalagi usianya masih lima tahun kala itu,”

Ekspresi lelaki dan isterinya tampak iba. Mereka tak menduga senyuman tulus dari anak yang barusan mereka lihat, memiliki masa lalu yang begitu tragis. Wanita itu lalu menyentuh pundak suaminya lembut.

“Kita pasti bisa Pa, kita akan membuat dia mampu melupakan masa lalunya yang menyedihkan,” kata wanita itu lembut.

***

Putera ditempatkan diatas meja dapur. Ia hendak kembali tidur ketika diperhatikannya ada beberapa lilin merah yang dinyalakan Mamanya. Sedangkan Papanya terdengar tengah mengasah sesuatu.

“Apa kita akan makan ayam barbeque lagi malam ini?” tanya Putera.

Mamanya menggeleng, “Malam ini kau akan menjadi anak lelaki tangguh yang membanggakan Papa dan Mama,”

Putera lalu duduk. Ia terlalu bingung dengan apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya. Lilin merah itu disusun dengan pola yang aneh. Putera lalu melihat Papanya dengan sebilah pisau di tangannya.

“Ayo minum susu dulu, Put,” kata Mama sambil memberikan segelas susu.

“Tapi kan minum susunya nanti pagi Ma, ini masih malem,” kata Putera lugu.

“Ayo donk Putera kan anak jagoan Mama Papa.”

***

“Selamat datang di rumah baru Putera. Ini Ibu Rani dan aku Ayah Rico, semoga kamu betah dengan rumah baru ini ya,” kata pria yang baru saja mengadopsi Putera. Putera mengangguk pelan. Pria dan isterinya itu lalu memeluknya. Putera tersenyum.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here