BEM FK Untad Bahas Protokol Penguburan Jenazah Secara Virtual

Ket. Foto : Dr Mariani HS SpP (Ketua KSM Paru RSU Tadulako, FK Untad) (Foto: Dok. panitia)

Sabtu (25/04) – Pahamkan masyarakat awam tentang protokol penguburan jenazah Covid-19, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tadulako (Untad) adakan kajian daring melalui aplikasi virtual Zoom. Kegiatan tersebut mengusung tema “Covid-19: Sebuah Dilema Diantara Rakyat dan Tenaga Kesehatan”.

Kajian daring tersebut menghadirkan tiga pemateri, yaitu Dr Mariani HS SpP selaku Ketua KSM Paru RSU Tadulako, FK Untad, Dr dr Annisa Anwar Muthaher SH MKes SpFM selaku Kepala Departemen Forensik dan Medikolegal FK Untad & Ketua Hospital by Law RS Anutapura Palu, dengan materi aspek Kedokteran Forensik dan Medikolegal serta pemulasaran jenazah pada kondisi pandemi Covid-19, dan Drg Lutfiah Sahabuddin MKM selaku Kabid P2P dan Kesling Dinas Kesehatan Kota Palu, dengan materi tatalaksana dan protokol pemulasaran jenazah Covid-19 dari segi Pemerintah.

Dalam pemaparan materinya, Dr Mariani HS SpP selaku pemateri pertama yang membahas tentang aspek klinis pada pasien Covid-19, menuturkan bahwa untuk mengetahui gejala klinis tersebut, beberapa kolegium mungkin memiliki buku pedoman masing-masing sebagai tim medis. Oleh karena itu, masyarakat awam dapat menggunakan buku pedoman Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

“Beberapa kolegium mungkin memiliki buku pedoman masing-masing sebagai tim medis. Oleh karena itu, masyarakat awam bisa menggunakan buku pedoman Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemerintah,” paparnya.

Sementara itu diwawancai via WhatsApp, Alif Tibia Zuhdi selaku ketua BEM FK menjelaskan tujuan dilaksanakannya kajian daring adalah untuk mengedukasi masyarakat awam tentang Covid-19. Sebagai jurusan yang nantinya akan menjadi tenaga medis, ia mengungkapkan bahwa sudah menjadi tugas bersama untuk mengingatkan sesama mengenai pandemi Covid-19.

“Kajian daring bertujuan mengubah pandangan masyarakat terkait pemulasaraan jenazah Covid-19 yang jika dilakukan sesuai dengan protokol, jenazah tersebut dapat disemayamkan dan tidak akan menyebarkan virus Covid-19. Selain itu, kami juga ingin mengubah persepsi masyarakat mengenai peran tenaga medis, bahwasanya dalam menangani pasien Covid-19 para tenaga medis sudah melakukan tindakan pencegahan sebelum pulang ke rumah agar tidak membawa virus Covid-19,” jelas Alif.

Kemudian Ia berharap kajian daring tersebut dapat memperbaiki pemahaman dan stigma masyarakat awam tentang jenazah orang yang terinfeksi Covid-19.

“Saya berharap masyarakat tidak lagi mengusir, mengucilkan, dan menerima jenazah Covid-19 untuk dikuburkan. Begitupun untuk para tenaga medis ketika kembali ke lingkungan rumahnya,” harapnya. NSD