Mudik atau Pulang Kampung, sing Penting “Sehat”

Setelah matanajwa mempublish wawancara ekslusifnya dengan Presiden Joko Widodo terkait himbawan mudik, yang menimbulkan banyak komentar dan pertanyaan atas pernyataan Presiden Jokowi, bahwa pemerintah melarang mudik, tetapi tidak pada pulang kampung. Artinya, orang-orang boleh pulang kampung, tapi tidak boleh mudik. Nah… kan, jadi bingung.

Masyarakat kemudian ramai saling memberi definisi mudik dan pulang kampung. Terus mencari-cari perbedaannya, dan menunjukkan pada masyarakat dunia maya. Pada sebagian orang, tidak mempersoalkan kata itu. baik mudik atau pulang kampung. Sebagian mereka fokus untuk menggalang persatuan, menjaga agar selama masa social distancing ini, juga WFH, tidak ada masyarakat yang mati karena kelaparan. Tentu ironis sekali, selamat dari virus, tetapi mati kelaparan.

Karena itu, di Kota Palu, para aktivis-aktivis mulai bekerja, membantu sesama. Platform-platform jagapalu, bakubantu.id, hingga NGO-NGO yang sudah ada sejak entah. Bahkan perorangan yang mendapat kepercayaan dari orang lain untuk menyalurkan donasi. Sayangnya, ada lembaga-lembaga yang fiktif, hanya karena ada orang-orang yang bergerak perorangan ingin memiliki kredibilitas dengan adanya nama lembaga. Ya, meskipun tetap menyalurkan bantuan pada yang membutuhkan.

Sebenarnya, tidak mengapa. Kadang memang untuk menempuh tujuan yang mulia, ada jalan-jalan alternatif yang tidak kita tahu, benar atau tidak rutenya. Yang penting, sampai ke tujuan, dan tujuan perjalanan itu tercapai. Ah, sudahlah, yang penting tetap sehat, kan? Mau jadi sukarelawan kan harus sehat, mau jadi donator juga harus sehat toh? Apalagi mau mudik atau pulang kampung.

Masyarakat ketika larangan tidak boleh mudik diberitakan, panik semakin menjadi. Setelah masa ketakutan dan kecemasan mempengaruhi psikis masyarakat, kini ditambah dengan tidak boleh mudik, tapi boleh pulang kampung. Pertimbangan yang diberikan pemerintah, memang jelas; memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Karena dikhawatirkan menjadi para pemudik menjadi carier Covid-19. Tapi bertahan di perantauan juga memilukan. Tidak bekerja, tidak memiiki uang, dan tentunya kita tidak bisa berharap setiap pekan dibawakan sepaket sembako dari para sukarelawan. Karenanya pulang ke tanah kelahiran, masih memberi harapan untuk survival. Masih bisa berkebun, memancing, mencari sayuran, dan lain-lain.

Kembali lagi kepada individu. Ia hendak bagaimana, tetapi menjaga kesehatan diri, memastikan tidak memiiki gejala Covid-19, adalah yang utama. Mudik atau pulang kampung, sing penting “sehat”. Sehat jasmani dan rohani. Itu yang terpenting. Perilaku kita juga demikian. Membiarkan otak kita berpikir tenang dan jernih, adalah salah satu cara menekan ketakutan dan kecemasan berlebih, yang nantinya membuat tubuh kita down.  Tubuh yang tidak sehat, akan lebih mudah diserang bakteri dan virus. Kita lihat, kebanyakan yang meninggal adalah mereka yang punya penyakit bawaan. Ingat, sing penting sehat. Jaga selalu kesehatan.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here