Puasa, Autofagi, dan Imunitas

Prof. Dr. Nurdin Rahman, M.Si, M.Kes

(Guru Besar Ilmu Gizi FKM Universitas Tadulako)

 

Sesungguhnya Allah SWT telah menyiapkan  tiga macam strategi pertahanan tubuh (sistem imun) yaitu :1) Barrier fisikal (berupa kulit dan mukosa yang utuh) dan kimia (asam lambung/HCl), 2) Respons imun alami (innate/nonspesifik), 3) Respons imun adaptif (spesifik). Pada sebagian besar kasus, pertahanan terhadap mikroba patogen dapat dihadapi oleh barier fisikal dan respons imun alami, tetapi bila tidak berhasil, respons imun adaptif akan diaktivasi (Sudiono, 2014). Sasaran utama dari sistem imun : bakteri patogen & virus. Sel imun utama yang berperan dalam tubuh adalah sel imun utama yaitu sel darah putih (leukosit) dan  sel imun pendukung yaitu sel plasma, makrofag, dan sel mast. Sistem pertahanan tubuh sel darah putih (leukosit) yang terdiri dari: neutrofil, basofil, eusinofil, monosit, dan  limfosit (Sel B, T,NK) yang mempunyai fungsi masing-masing untuk mengantisipasi serangan mikroba patogen.

Bagaimana Respon Tubuh Saat Puasa ?

 Peraih Nobel Kedokteran  Profesor Yoshinori Ohsumi, membuktikan secara ilmiah bahwa puasa berkaitan erat dengan autofagi. Autofagi merupakan istilah Yunani yang berarti ‘memakan diri sendiri’.  Melalui mekanisme autofagi (autophagy), hasil penelitian biologi sel melaporkan bahwa apa yang terjadi pada tubuh manusia sampai ke tingkat sel ketika kekurangan zat gizi karena tidak makan (berpuasa) adalah sel membersihkan dan memperbarui dirinya sendiri atau terbentuk sel baru. Ketika sel-sel lapar, mereka mengkonsumsi protein yang ada pada diri mereka sendiri untuk mendapatkan bahan bakar untuk energi agar terus hidup. Protein-protein yang dimakan ini adalah protein-protein dari organ-organ sel yang telah rusak. Dari proses itulah, autofagi mengeliminasi bagian-bagian sel yang rusak dengan hasil akhirnya sel berkesempatan memperbarui dirinya sendiri dengan membentuk bagian-bagian yang baru (Larsson & Masucci,2016). Sel yang baru (kuat) akan memakan sel tua atau bahkan sel tua melakukan bunuh diri sel sendiri. Tentu sel yang dimaksud termasuk sel darah putih (leukosit) yang memang tugasnya menangkap dan mematikan mikroba pathogen (virus).

Dengan autophagy, sel juga dapat dapat mengisolasi bagian dari sel yang rusak, mati, tidak bisa diperbaiki, terserang penyakit maupun terinfeksi. Setelah mengisolasinya, sel kemudian menghancurkan bagian tersebut dan melakukan regenerasi untuk menghasilkan energi dalam sel. Sel yang rusak akan diperbaharui kembali, sehingga autophagy  juga berkontribusi dalam pencegahan dampak negatif dari proses penuaan (antiaging). Dari temuan ini diketahui bahwa mekanisme autofagi terbukti berperan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.  Walau demikian, autofagi yang optimal adalah tidak terjadi secara ekstrem, artinya, seseorang tidak boleh kelaparan (hunger) atau sama sekali tidak makan, sehingga proses autofagi menjadi tidak terkendali, dan tidak boleh terlalu kenyang, sehingga mematikan proses autofagi. Hal ini sesuai firman Allah  SWT: “Dan makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf  [7]: 31).

Beberapa hasil penelitian baik klinis maupun non klinis juga menunjukkan hal sama, bahwa puasa dapat meningkatkan imunitas. Tikus yang dipuasakan 12 jam/hari selama 30 hari, terbukti terjadi peningkatan secara signifikan (p <0,05) total protein, globulin, imunoglobulin M (IgM) dan kadar IgG, dan kapasitas total antioksidan. Sebaliknya terjadi penurunan dalam glukosa darah, kolesterol total, kolesterol LDL, dan kadar MDA secara signifikan (p <0,05) (Sadek and Saleh, 2014). Puasa pada hari ke-16 hingga ke-26 terjadi  peningkatan kadar limfosit, monosit, netrofil (bagian dari sel darah putih/leukosit)  yang berfungsi mengatur irama sistem imunitas/ kekebalan tubuh (Zainullah, 2005). Puasa intermiten dari fajar hingga matahari terbenam selama lebih dari 14 jam setiap hari selama 30 hari berturut-turut hari berhubungan dengan  pensinyalan insulin, perbaikan DNA, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi kognitif, dan menghasilkan proteome serum yang memproteksi terhadap kanker, obesitas, diabetes, sindrom metabolik, peradangan, penyakit Alzheimer, dan beberapa gangguan neuropsikiatri (Mindikoglu et al., 2020). Puasa selama bulan Ramadhan menunjukkan efek menguntungkan terhadap fungsi fagositik neutrofil yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase neutrofil  yang ditunjukkan dengan penurunan NBT(Nitroblue tetrazolium) (Latifynia et al., 2009). Studi lain juga melaporkan bahwa puasa menurunkan  stres oksidatif pada makrofag (penghancur mikroba pathogen) (Lahdimawan et al. 2013).

Zat Gizi (Antioksidan) Peningkat Imunitas

Uraian di atas menyebutkan bahwa proses autofagi tidak akan terjadi  sebelum kita lapar (puasa). Namun demikian asupan gizi seimbang pada saat berbuka dan sahur tentu sangat menentukan tingkat imunitas seseorang. Jika seseorang mengalami sakit akibat infeksi termasuk yang disebabkan virus dan bakteri, maka sistem imun tubuh perlu ditingkatkan. Umumnya semua zat gizi yang berperan sebagai antioksidan, juga dapat  meningkatkan sistem imun tubuh. Zat gizi antioksidan tersebut berassosiasi/menstimulai sel darah putih untuk menangkap sekaligus mematikan mikroba pathogen (virus).

Zat gizi mikro sebagai antioksidan yang umum adalah vitamin A, C, E, mineral besi, zink, dan selenium. Di samping peran zat gizi antioksidan, tentu mengonsumsi pangan sumber zat gizi makro seperti:  karbohidrat, protein,lemak, dan air tidak boleh diabaikan. Kalori yang didapatkan dari zat gizim makro merupakan “bahan bakar” untuk sel imun tubuh. Protein membantu meningkatkan imunitas dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Konsumsi cukup air minimal 8 gelas sehari menjaga status hidrasi tubuh. Kekurangan air akan menyebabkan dehidrasi dan menurunkan fungsi mulut sebagai “first-line immunological barrier”. Hal ini menyebabkan kerentanan terhadap bakteri dan virus. Selain itu, dehidrasi juga berefek pada meningkatkan hormon kortisol yang berhubungan dengan penurunan fungsi imun (immunosuppression).  Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah senantiasa mengonsumsi bahan pangan yang dapat menjaga dan mempertahankan kondisi kesehatan bakteria dalam saluran pencernaan (gut microbiota). Untuk meningkatkan kesehatan gut microbiota, dapat diperoleh dari konsumsi makanan seimbang termasuk konsumsi makanan sumber prebiotik dan probiotik. Contohnya adalah yogurt, yakult, dadih, dan tempe (Tim PERGIZI PANGAN Indonesia, 2020).

Salah satu vitamin yang sering dikonsumsi saat era Covid-19 ini adalah suplemen vitamin C (walaupun dalam sayuran dan buah-buahan juga banyak terkandung).Vitamin C meningkatkan fungsi imun dengan menstimulasi produksi interferon (protein yang melindungi sel dari serangan virus). Interferon adalah salah satu sitokin yang dihasilkan  karena adanya komunikasi sel yang baik dan untuk menjaga komunikasi tersebut tetap baik,  maka diperlukan sel imun yang sehat dengan membran sel yang utuh (Winarsi, 2007). Vitamin C merangsang migrasi neutrofil (sel darah putih) ke tempat infeksi, meningkatkan fagositosis dan mematikan mikroba pathogen (Anitra and Maggini, 2017).

Berdasarkan uraian di atas maka semakin jelas sudah kebenaran Sabda Rasulullah Muhammad SAW bahwa: “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” (HR.Thabrani) yang dibuktikan oleh hasil penelitian biologi sel, tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia sampai ke tingkat sel, ketika sel defisiensi zat gizi pada saat berpuasa. Melalui mekanisme autofagi, sel membersihkan dan memperbarui dirinya sendiri untuk peningkatan imunitas tubuh. Asupan gizi seimbang pada saat berbuka dan sahur sangat menentukan tingkat stimulasi peningkatan sistem imunitas tubuh. Hal ini tentu semakin memperkuat keyakinan dan meningkatkan motivasi untuk senantiasa memelihara puasa, baik yang wajib maupun yang sunnah.

 

Kepustakaan

Anitra C. Carr, A.C., and Maggini, S., 2017. Vitamin C and Immune Function. Nutrients 2017, 9, 1211; doi:10.3390/nu9111211

Mindikoglua, A.L. , Abdulsadaa ,M.M,  Antrix Jainc ,A.,  Choic J.M.,Jalala,P.K., Devaraje,S., Mezzarif ,M.P.,  Petrosinof ,J.F.,  Opekuna,A.R., Jungc,S.Y.2020.  Intermittent fasting from dawn to sunset for 30 consecutive days is associated with anticancer proteomic signature and upregulates key regulatory proteins of glucose and lipid metabolism, circadian clock, DNA repair, cytoskeleton remodeling, immune system and cognitive function in healthy subjects. Journal of Proteomics 217. 103645

Larsson, N-G., & Masucci, M. G. 2016.Scientific background discoveries of mechanisms for autophagy.

Latifynia,A., Vojgani,M., Gharagozlou,M.J.,  Sharifian.2009. Neutrophil Function (Innate Immunity) During Ramadan. J Ayub Med Coll Abbottabad;21(4)

Sadek, K.M.,  and and EA Saleh, E.A., 2014.  Fasting ameliorates metabolism,immunity, and oxidative stress in carbon tetrachloride-intoxicated rats.   Human and Experimental Toxicology Vol. 33(12) 1277–1283

Siswanto, Budisetyawati, Ernawati F.2013. Peran Beberapa Zat Gizi Mikro dalam Sistem Imunitas.  Gizi Indon 2013, 36(1):57-64

Sugiono, J. 2014. Sistem Kekebalan Tubuh, Penerbit Buku Kedokteran (EGC), Jakarta.

Tim PERGIZI PANGAN INDONESIA. 2020. Panduan  Layanan Edukasi dan Konsultasi online tentang Konsumsi Pangan Aman Bergizi Dan Hidup Bugar (Lekka Bergizi Bugar). PERHIMPUNAN PAKAR GIZI DAN PANGAN, Bogor.

Zainullah, 2005). Perubahan Respon Psikoneuroimunologis pada Pelaksana Puasa Ramadan, Disertasi Universitas Airlangga

Winarsi, H.. 2007. Antioxidan Alami dan Radikal bebas. Kanisius Yogjakarta.

https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/medicine/laureates/2016/advanced-medicineprize2016.pdf

http://psikologi.fph.ummgl.ac.id/post-timeline/biopsikologi-puasa-hikmah-puasa-dalam-proses-autofagi/

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here