Risdayanti Mahasiswa Rantau Yang Aktif Berbagi Di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 menjadi kabar yang tampaknya kian lama, kian meresahkan. Kasus-kasus yang disiarkan di media setiap harinya terus melaporkan pertambahan jumlah pasien yang positif terjangkit virus yang masih tergolong baru ini.

Demi mencegah penyebaran virus semakin meluas, Pemerintah menghimbau masyarakat untuk beraktivitas di dalam rumah, mulai dari beribadah, bekerja, belajar dan aktivitas lainnya. Akibatnya banyak perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah dan kampus yang ditutup. Sehingga hal tersebut membuat banyak mahasiswa tanah rantau yang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Namun, tak jarang juga sering kita dapati beberapa mahasiswa yang tetap bertahan di tanah perantauan dengan berbagai alasan, salah satunya adalah Risdayanti.

Yanti sapaan akrabnya, merupakan  mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Kegururan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Tadulako (Untad) angkatan 2018. Wanita Kelahiran Desa Peley, 24 November tahun 1999 ini adalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang memutuskan untuk tetap berada di tanah rantau ketimbang balik ke kampung halaman.

Bukan tanpa alasan, Mahasiswa penyuka warna biru itu tetap bertahan di tengah Pandemi karena jiwa organisasi dan kemanusiaanya menyerukan untuk tetap tinggal di Kota Kelor. Di kala orang lain sibuk akan dirinya sendiri, Alumni SD Negeri Palam itu malah mendedikasikan dirinya untuk sibuk membantu orang lain yang tidak mampu karena terimbas penyebaran Virus Covid-19 lewat kegiatan Himpunan Mahasiswa Bahasa Inggris (HIMABRIS) Charity.

“Selama di Palu selain kuliah online, saya juga melibatkan diri untuk menjadi salah satu relawan di HIMABRIS Charity, selama tergabung disitu banyak hal positif yang dapat saya lakukan, salah satunya adalah membagikan donasi bagi orang-orang yang kekurangan dalam segi ekonomi selama pandemi ini, selain mendapat pengalaman kegiatan ini juga membuat saya menjadi lebih bersyukur dengan kondisi saya yang Alhamdulilah masih berkecukupan,” tutur gadis pecinta buku itu.

Mantan siswa SMP Satu Atap PALAM itu bercerita bahwa jiwa organisasinya mulai tumbuh sejak dirinya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ia tergabung dalam pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMK Negeri 1 Liang. Setelah menyelesaikan studinya di jurusan Administrasi pada jenjang menengah atas, gadis penyuka hal-hal baru tersebut memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan dengan memilih Bahasa Inggris sebagai pilihan pendidikannya. Menurutnya Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang sangat tak dikuasainya saat masih sekolah, hal itu yang membuat dirinya tertantang untuk menetapkan hati memilih agar bisa menguasai pelajaran “mengerikan” itu.

Selain itu, melihat tenaga pengajar Bahasa Inggris di kampung halaman yang sangat terbatas, dan banyaknya pelancong manca negara yang berwisata ke kampungnya, membuat gadis dengan kebiasaan ngebacot itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada untuk membangun Desa tercinta.

Ketika ditanya tentang kerinduan akan kampung halaman, Mahasiswa yang juga aktif di Paguyuban Ikatan Pemuda Bangai Kepulauan (IPBK) itu menjelaskan bahwa keinginannya untuk pulang kampung terbilang besar, namun karena sistem pembelajaran yang diubah ke sistem daring, ia memilih untuk menetap di Palu karena jaringan di kampungnya tidak mumpuni untuk mengikuti sistem pembelajaran yang diadakan.

“Sebenarnya ada keinginan untuk pulang kampung, hanya saja karena beberapa faktor saya memutuskan untuk tetap tinggal di Palu. Selain aktif di kegiatan sosial, faktor lain adalah jaringan. Di kampung saya jaringan internet susah untuk diakses, apalagi sekarang semua pembelajaran berbasis online. Untungnya orang tua saya mengerti dengan keadaan dan kondisi saya,” ungkapnya.

Kemudian ia menambahkan, bahwa rasa kerinduan akan orang tua dan kampung halamannya dapat terobati dengan berbagai kegiatan postif yang ia ikuti di Himpunan dan Organisasi selama masa Pandemi ini.

“Di Palu saya aktif di HIMABRIS dan juga IPBK. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan disini dapat sedikit mengobati rasa rindu saya, seperti buka puasa bersama, masak bersama, dan shalat bersama,” jelas Koordinator divisi Advokasi di HIMABRIS itu.

Dikenal sebagai sosok yang ceria, anak pertama dari empat bersaudara itu pernah mengalami masa sulit saat kehilangan sosok Ayah yang sangat dicintainya, namun tak lantas hal tersebut membuatnya untuk berada dalam keterpurukan terus menerus, Ia memutuskan untuk bangkit dan terus mengasah dirinya agar bisa menggapai cita-cita yang sudah lama diimpikan.

“Kehilangan ini membuat saya berada dalam masa keterpurukan, namun hal itu membuat saya bangkit dan harus terus mengasah dirinya, agar suatu hari bisa menjadi sosok yang berguna di masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia mengungkapkan bahwa ia bercita-cita agar dapat membuat suatu yayasan pendidikan yang dapat membantu pendidikan anak-anak yang kurang mampu di kampungnya, sehingga dapat membangun kampung halamannya.

“Ke depannya kalau lulus kuliah saya ingin mengejar cita-cita saya menjadi guru, dan kalau dikehendaki yang Maha Kuasa, saya ingin membangun suatu yayasan pendidikan di kampung saya, agar kelak anak-anak yang kurang mampu di kampung halaman saya dapat mengenyam pendidikan yang sama seperti yang saya rasakan,” ucapnya dengan emoji senyum dan berharap melalui pesan WhatsApp.

Putri dari seorang petani itu berpesan buat semua mahasiswa diluar sana yang juga tidak bisa pulang ke kampung halaman agar tetap semangat, menjaga kesehatan dan terus melakukan hal-hal yang positif.

“Untuk teman-teman mahasiswa yang tidak bisa pulang karena berbagai faktor, saya mau bilang kalian tidak sendiri. Tetap jaga kesehatan, kalau bisa gunakan waktu luang yang ada dengan melakukan hal-hal positif yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat, apalagi di bulan yang penuh berkah ini,” ujarnya.

Diakhir wawancara, Wanita pemegang moto hidup lakukanlah hal-hal postif untuk lingkungan sekitarmu itu berharap agar keadaan di tengah pandemi Covid-19 ini bisa cepat mereda, dan tidak memakan lebih banyak korban lagi.

“Harapan saya, semoga kondisi pandemi ini secepatnya reda, tidak banyak memakan korban lagi, dan segera ditemukan vaksinnya, agar kondisi ekonomi secepatnya pulih dan masyarakat bisa seperti sedia kala dalam hal pendapatan dan lain sebagainya,” tandasnya. Adr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here