Webinar Jurusan Ilmu Ekonomi Hadirkan Pandangan Tentang Ekonomi dan Kesehatan di Tengah Pandemi

Ket. Foto: Prof Arief Anshory Yusuf selaku narasumber (Foto: Dok. sdgcenter.unpad.ac.id)

Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi (FEKON), Universitas Tadulako (Untad), adakan Webinar tingkat nasional ke 4, bertajuk “Kesehatan atau Ekonomi: Pilihan Sulit di Tengah Pandemi Covid-19”, melalui aplikasi Zoom pada Selasa (21/04).

“Kegiatan ini digagas oleh Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Dr Haerul Anam, dalam menyikapi kondisi ekonomi dampak dari Covid-19. Webinar nasional ke 4 merupakan lanjutan dari 3 webinar sebelumnya,” ungkap Moch. Ichwan Tandju selaku penyelenggara.

Ichwan menuturkan bahwa pilihan topik didasarkan pada pertimbangan kesimpulan dalam 3 kegiatan webinar sebelumnya

“Dibutuhkan pemahaman teoritik maupun praktik selama pandemi wabah SARS Cov-2 yang melanda dunia, yaitu mengedepankan kesehatan atau ekonomi dalam situasi pandemi wabah. Khususnya dengan kondisi sekarang,” jelasnya.

Dalam webinar yang dilaksankan, diikuti oleh 75 peserta, dengan menghadirkan empat narasumber yaitu: Prof Ahmad Eranu Yustika Guru Besar FEB Universitas Brawijaya (Stimulus Fisika dan Ketahanan Ekonomi), Prof Arief Anshory Yusuf, Guru Besar FEB Universitas Padjajaran (Mengukur Ongkos Ekonomi Sesungguhnya dari Wabah Covid-19), Prof Nurdin Rahman GB FKM Untad (Sonergitas Perbaikan Gizi (Kesehatan) Masyarakat dan Ketahanan Ekonomi), dan Drg Heery Mulyadi MKes Direktur RSUD Anutapura Palu (Dampak Penanganan Covid-19 terhadap Petugas).

Dalam materinya, Prof Arief memaparkan bahwa tidak boleh ada pilihan pengutamaan antara ekonomi dan kesehatan. Utamakan kesehatan untuk menggapai produktivitas manusia dan akhirnya mendorong perbaikan ekonomi.

“Kebijakan pemerintah membatasi pergerakan dan aktivitas manusia telah dilengkapi dengan stimulus berupa Rp 405 T bersumber APBN untuk 4 program utama yaitu (1) Pemulihan ekonomi 150 T; (2) Bidang kesehatan 75 T; (3) Jaring Pengaman Sosial 110 T; dan (4) Insentif perpajakan dan Stimulus KUR 70,1 T,” tuturnya.

Masih menurut Prof Amir, tentang pembiayaan tersebut sebatas pada sekitar 2-3 bulan ke depan. Namun tidak bakal mencukupi hingga Desember apabila penanganan Covid-19 berlanjut hingga akhir tahun.

Sementara itu, Pandangan Prof Anshory,untuk kesehatan, dinilai membutuhkan pembiayaan yang lebih. Karena karena sistem kesehatan Indonesia belum mampu mengantisipasi dampak berat dari penyebaran wabah yg bersifat eksponensial.

“Berdasarkan ketiga hasil itu, diharapkan stimulan dapat dikelola dengan bijaksana dan tepat sasaran segera diwujudkan. PSBB diterapkan secara ketat dan masyarakat harus mendukung dengan kepatuhan, seiring pewujudan stimulus dapat memberi hasil dalam jangka panjang lebih baik,” tutupnya. Adr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here