Dr. Ir. Tutang Muhtar Kamaludin S.T M.Si “Potret Tadulako Sejati”

Dr. Ir. Tutang Muhtar Kamaludin ST M.Si, dosen yang tak asing lagi di mata mahasiswa dan dosen di lingkungan Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Tadulako (Untad). Pria kelahiran Sukabumi 49 tahun silam ini, pertama kali menjejakkan kaki di bumi kaktus tahun 1990. Dr Tutang sapaan akrabnya, dikenal sebagai sosok dosen yang bersahaja dan dekat dengan mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan terpilihnya Ia sebagai dosen favorit pilihan mahasiswa pada ajang HMTS Award 2018.

Kedekatannya dengan mahasiswa sudah dimulai sejak Ia menempuh pendidikan D3 pada Program Studi Teknik Sipil di Untad. Semasa kuliah, ia didapuk sebagai Ketua pertama Senat Mahasiswa Fatek yang sekarang beralih nama menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pembawaan dirinya yang nampak lugas, rendah hati, dan bertanggung jawab, berhasil membawanya menjadi Ketua 1 Senat Mahasiswa Untad. Tak hanya itu, pria asli suku Sunda tersebut juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Ia terpilih menjadi ketua pertama Taman Pengajian Hizbullah dan salah satu perintis LDK Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (UPIM).

Setelah menyelesaikan pendidikan D3, anak kelima dari tujuh bersaudara ini melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di kampus yang sama, yaitu Untad. Bukan tanpa alasan, Ia mengungkapkan bahwa rasa kecintaannya terhadap bumi tadulako dimulai sejak ia menginjakkan kaki di tanah kaili. Baginya, jiwa Tadulako sudah melekat dalam semangat Tutang Muhtar.

“Saya ini benar-benar produk Tadulako tulen. Seandainya ada S3 teknik di Untad kala itu, pasti saya akan kuliah disana. Karena saya melihat pada waktu saya kuliah S1 dan S2 di Untad, dosen-dosen nya tidak kalah dari Universitas lain. Baik secara kualitas, integritas, kemampuan dan inovasi, dosen Tadulako berada di atas rata-rata. Tinggal bagaimana mencari kesempatan saja,” ucapnya dengan senyum yang merekah.

Ketika ditanya soal prestasi selama kuliah, Ayah tiga anak ini menuturkan bahwa Ia tidak memiliki prestasi apapun. Kemudian selama kuliah, Ia selalu mendapat peluang untuk mendapatkan beasiswa, namun Ia tak pernah mengambil kesempatan itu. Jiwa solidaritas tinggi yang lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri membuatnya justru mendorong teman sejawatnya untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Baginya, alangkah tidak pantas seorang Ketua Lembaga mendapatkan beasiswa. Ia juga selalu memotivasi teman sejawatnya untuk segera menyelesaikan studi, namun ia sendiri berdiri di barisan mahasiswa yang paling terakhir dalam penyelesaian studinya.

“Saya dari mulai kuliah punya kesempatan mendapatkan beasiswa. Tetapi itu tidak saya lakukan. Justru saya mendorong teman-teman untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Karena pada waktu itu saya sebagai ketua lembaga, alangkah tidak eloknya justru mendapatkan beasiswa. Dan pada waktu itu juga saya salah satu mahasiswa yang terakhir menyelesaikan studi. Saya lebih banyak mendorong teman-teman satu angkatan untuk selesai duluan. Karena saya memiliki tanggung jawab untuk mem-backup mereka agar bisa bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya.

Solidaritas dan tanggung jawab yang ia bangun ternyata membuahkan hasil. Setelah perjalanan panjang, Ia terpilih sebagai satu-satunya angkatan 90 yang berprofesi sebagai Dosen dan berhasil menyelesaikan jenjang S3.

“Dibalik semua kisah saya, ternyata Tuhan siapkan hadiah terindah. Tuhan itu sangat adil. Kuliah hampir 6 tahun, tapi justru dari 120 orang mahasiswa angkatan 90, Tuhan menunjuk saya menjadi satu-satunya orang yang berprofesi sebagai dosen dan satu-satunya yang menyelesaikan S3,” ujarnya.

Bagi pria yang sering mengenakan kopiah tersebut, definisi prestasi adalah membuat diri bermanfaat bagi orang lain walaupun hanya satu langkah. Mewakafkan waktu untuk terus berbuat kebaikan, dan landasannya untuk kepentingan umum bukan kepentingan pribadi. Karena Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala proses dan perjuangan.

Pria yang mendapat gelar Doktor dari Universitas Hasanuddin ini, tak pernah menyangka akan menjadi seorang Dosen. Pasalnya, dulu sebelum melanjutkan studi, ia hanya lulusan jenjang D3 dan dalam kalkulasinya sangat mustahil karena syarat Dosen harus S1.

Terbiasa mengikuti sang Ayah mengajar, Tutang kecil bercita-cita menjadi seorang guru yang ekspetasinya nanti akan mengajar di Sekolah Dasar (SD) ataupun Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dirinya sempat mendaftar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Sukabumi, namun mendapatkan penolakan. Namun akhirnya Ia diterima di SMA Negeri 3 Sukabumi yang merupakan sekolah favorit.

“Pada waktu itu saya tidak pernah berpikir akan menjadi guru, apalagi dosen. Tapi orang tua dan guru-guru kita selalu mengatakan jangan kamu takut menggantungkan cita-cita, karena Tuhan akan selalu memberikan jalan. Intinya terus saja berdoa, karena kita tidak tau doa mana yang dikabulkan Tuhan. Proses itu dijalani dengan ikhlas dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena saat itu saya berpikir, untuk seorang D3 tidak mungkin menjadi Dosen. Namun saya terus berjalan hingga akhirnya Tuhan memberikan saya jalan disini,” pungkasnya dengan senyum pertanda semangat.

Ketulusan hati dan kerja keras mengantarkan Dr. Tutang menjadi Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan (Wadek Biduk) Fatek Untad. Mantan ketua Ikatan Alumni Fakultas Teknik ini juga dipercayai menjadi Direktur Eksekutif Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Tadulako, Sekretaris Majelis Wilayah Nasional KAHMI Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Ketua Cabang Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kabupaten Banggai serta baru-baru ini Ia diangkat menjadi ketua Forum Dosen Indonesia Provinsi Sulteng.

Pria yang mengawali karir sebagai tenaga honorer tersebut, selalu memberikan pelayanan yang terbaik saat mengajar. Meskipun di tengah pandemi Covid-19 ini, Ia tak pernah menyurutkan semangatnya untuk memberikan ilmu kepada mahasiswa. tak tanggung-tanggung, ada empat aplikasi yang digunakanya saat memberikan kuliah secara online.

“Justru produktifitas saya saat pandemi lebih tinggi dibandingkan pada waktu kondisi normal. Karena pada waktu belajar dengan system daring itu saya mengedukasi mahasiswa hingga 4 aplikasi daring. Kadangkala saya memakai LMS Untad, Whatsapp ataupun via zoom meeting. Bahkan saya mengabsen mahasiswa menggunakan education link. Jadi 4 aplikasi itu saya edukasikan kepada mahasiswa. Supaya sifatnya seperti tidak memaksakan. Saat daring secara offline itu menggunakan LMS dan education link. Semua mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti ini. Namun tak jarang juga saya bertatap muka melalui aplikasi zoom yang sifatnya tidak diwajibkan bagi mahasiswa,” ungkapnya.

Dengan berbagai kesibukannya di dalam dan luar Kampus, pria yang memiliki motto “Ingin bermanfaat untuk orang banyak” tetap menyempatkan diri untuk berkecimpung dalam kegiatan sosial. Di masa pandemi Covid-19 ini, ia menginisiasi program sosial bernama “Teknik Peduli” untuk membantu tenaga honorer, security, cleaning service, dan masyarakat terdampak. Selain itu, ia pun telah melaksanakan kegiatan webinar Fatek Untad sebanyak 8 kali selama wabah Covid-19, 2 hingga 3 kali kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh akademisi di Indonesia, bahkan ada satu kegiatan dengan jumlah peserta kurang lebih mencapai 900 orang.

Di balik keaktifannya di kampus kaktus, ia tak pernah lupa pada kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Sosok ayah yang hangat tercermin dalam diri Dr. Tutang. Selama mengikuti anjuran Pemerintah untuk di rumah saja, ia mengaku banyak waktu yang ia habiskan bersama keluarga. Seperti bercengkrama, mengaji dan salat tarawih berjamaah saat menjalankan ibadah puasa. Waktu yang digunakan pun terasa lebih efektif, karena bisa menyeimbangkan antara keluarga dan pekerjaan dalam satu tempat yaitu rumah.

Di akhir perbincangan, Ia menutup dengan satu kalimat motivasi, Do the best and pray. God will take care of the rest (Lakukan yang terbaik, kemudian berdoalah. Tuhan yang akan mengurus sisanya). Satu Untad, Satu Nafas, Satu Keluarga!. Rin

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here