Hadapi New Normal, Prodi Antropologi Gelar Sosialisasi

Ket. Foto: Dr Endang Mariani (Foto: dok. Pribadi Narasumber)

Kamis (04/06) – Menuju kehidupan “new normal”, Program Studi (Prodi) Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (Untad) gelar seminar via Zoom dengan tema “Bagaimana Menjalani Kehidupan dalam Tatanan New Normal di Masa Pandemi Covid-19”.

Dekan FISIP, Prof Dr Muhammad  Khairil Sag MSi mengapresiasi persiapan prodi Antropologi dalam menggelar seminar tersebut dengan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Prof Dr Meutia Farida Hatta Swasono, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan  (2004-2009), Dr Endang Mariani MPsi selaku Koordinator Psikologi Bidang Medis Tim Relawan Gugus Tugas percepatan Penanganan Covid-19 dan Geger Riyanto MSi PhD (Cand.), mahasiswa S3 program Antropologi Heidelberg University, Jerman.

Memaparkan materinya, Dr Endang menganalogikan kondisi manusia sedang berperang melawan musuh tidak terlihat yang mampu menelan banyak korban. Selain merenggut nyawa, psikologi manusia juga turut diserang oleh Covid-19. Faktanya virus ini tidak akan hilang, oleh karena itu dibutuhkan kesiapan dari berbagai sektor.

“Kita ibarat pasukan yang bertempur melawan musuh tidak terlihat, namun yang terlihat itu dampak yang ditimbulkan. Selain menghilangkan nyawa, ditemukan banyak sekali masyarakat yang memiliki masalah psikologi, diantaranya kecemasan, depresi, dan trauma psikologi. Meskipun setiap negara sudah melakukan berbagai upaya menekan pertambahan virus, WHO mengakui virus ini tidak akan hilang. Dengan demikian kita yang harus beradaptasi dengan mengikuti tatanan kehidupan baru atau new normal. Hadapi tatanan kehidupan baru tersebut, kita butuh kesiapan dan kesigapan seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.

Sedangkan dalam penyampaian Prof Dr Meutia Hatta, ia mengatakan bahwa seluruh dunia mengakui perlu adanya new normal, untuk memulihkan kembali kehidupan manusia. Masyarakat Indonesia harus di edukasi perihal new normal, agar dalam pelaksanaanya berjalan dengan baik.

“Seluruh masyarakat dunia menginginkan adanya tatanan kehidupan baru untuk hadapi covid-19. Dibarengi dengan harapan penyesuaian gagasan dan kegiatan terhadap dampak pandemi. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menjalankan new normal? Karena perubahan sudah menjadi tuntutan, Indonesia harus segera bersiap. Pastinya itu bukan hal yang mudah karena Indonesia negara multikultural, setiap daerah berbeda pendekatannya. Maka dari itu, antropolog harus punya peran sentral untuk mengedukasikan masyarakat dan menanamkan bahwa covid-19 adalah musuh kita bersama,” pungkasnya.

Sedangkan menurut Geger Riyanto, ia mengungkapkan fakta bahwa masyarakat saat ini kehilangan rasa kritis. Diawal merebaknya pandemi, masyarakat ketakutan dan selalu waspada. Namun mendekati masa akhir PSBB dan jumlah korban semakin meningkat, masyarakat malah antusias dan kehilangan kepekaan pada virus covid-19. Fakta tersebut mengkhawatirkan jika Indonesia mulai menerapkan new normal. Fha

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here