Meski Tetap Berjarak, NEW NORMAL Tetap Bikin Dag Dig Dug

 

Sejak diberlakukannya kebijakan New Normal, webinar-webinar diisi dengan tinjauan New Normal dari berbagai aspek. Segala sesuatu memang menimbulkan pro dan kontra. Ada baik dan buruknya. Ada efeknya. Ya kan? Sama halnya dengan keputusan pemerintah untuk diberlakukannya New Normal.

Setelah diumumkannya New Normal, beberapa tempat rekreasi mulai ramai pengunjung. Hal ini dibuktikan dengan foto yang dipost di akun media sosial masing-masing. Pusat-pusat perbelanjaan modern, mal-mal kembali beroperasi. Bioskop pun demikian. Tetapi tidak pada lembaga pendidikan. Pada tingkatan SD, para siswa masih belajar di rumah, sembari menunggu himbauan.  Begitu juga SMP. Siswa SMA di beberapa wilayah sudah sekolah. Segalanya menyesuaikan protokol kesehatan. Sedangkan Perguruan Tinggi, beberap masih memberlakukan kuliah daring.

New Normal, kita boleh bersantai, duduk di kafe, berkumpul, asalkan tetap memakai masker dan jaga jarak. Tidak aka nada yang mengeur. Kan sudah New Normal. Tapi dengan demikian, tingkat kewaspadaan kita menurun. Tanpa pikir panjang, kita keluar rumah, nongkrong setenang jiwa, bahkan juga kencan. Kebayang gak sih, ada di tempat ramai, tempat yang kita sukai, tapi hati dag dig dug, karena takut tertular? Atau kita tenang-tenang saja?

Bagi sebagian orang, justru ini mengkhawatirkan. Karena jalur transportasi semua dibuka. Orang-orang bebas keluar masuk. Sementara hasil tes rapid bahkan swab, tidak menunjkan gejala. Kategorinya masuk pada OTG (Orang Tanpa Gejala).

Tapi ngomong-ngomong terkait dag dig dug, ketimbang takut terjangkit virus Corona, sepertinya kita lebih takut pada biaya pemeriksaan kesehatan yang cukup mahal. Beruntung kalau mahasiswa, masih punya kartu sakti, kartu mahasiswa. Tapi kalau pegawai honorer? Atau pekerja serabutan yang kembali bekerja di ibu kota? apa kabar ya?

Dag dig dugnya jadi double yah. Dag dig dug mau ngumpul tapi gak bisa intim karena corona, dan cuan untuk tes kesehatan.

Duh.