Untuk Wanita Luar Biasa

Peluh menetes saat mentari baru saja kembali dari perantauan. Seorang wanita dua puluh dua tahun mengayuh sepeda dengan susah payah. Wajah pucatnya menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Untungnya udara bersih dari hamparan sawah di kanan dan kiri jalan kecil itu berhasil menerpa wajahnya, memberikan sedikit angin segar yang mampu mengembalikan semangat jiwa. Beberapa warga desa yang sedang berjalan kaki sempat menyapanya, ada pula yang menyadari ketidaksehatan wanita itu, tetapi dengan sigap ia menjawab bahwa ia hanya kurang tidur saja. Tak ada yang tahu; ia penuh rahasia.

Sepeda bututnya ia parkir rapi di sebuah Sekolah Dasar yang terbilang memprihatinkan. Hanya ada tiga ruang kelas untuk enam jenjang. Ah, miris sekali hidup di negeri ini. Dua kelas terpaksa disatukan dalam satu ruang. Kurang efisien tentunya, tapi apa hendak dikata, negeri ini masih butuh perhatian.

“Selamat pagi, Anak-anak!” sapa wanita itu saat memasuki ruang kelas satu dan dua.

“Pagi, Bu Guru Ayuu…,” jawab mereka serempak. Ayu tak mampu menahan diri untuk tak tersenyum. Semangat belajar anak-anak itu selalu menjadi sumber kekuatannya untuk bertahan.

Baru saja Ayu ingin memulai pembelajaran, ponselnya bergetar, sebuah pesan mendarat di benda pipih itu. Ayu senang bukan kepalang, tetapi ia segera menyadarkan diri. Anak-anak menatap ke arahnya yang sedang cengengesan. Wajar saja, daerah pedalaman Aceh ini sangat susah sinyal. Untuk saling berkirim pesan pun sulit.

Ayu tak langsung membaca pesan itu. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian memulai pembelajaran yang sempat tertunda. Waktu mengajar adalah untuk mengajar, tak bisa dipakai untuk hal lain. Seorang guru harus bersikap profesional, itulah yang selalu Ayu tanamkan pada dirinya sendiri. Bahkan sekarang pun ia tak boleh terlihat sedang sakit di depan para siswanya.

“Nah, tugas besok, kalian harus hafal pancasila yang Ibu ajarkan tadi, ya,” ujar Ayu menutup pelajarannya. “Pokoknya yang hafalannya bagus Ibu kasih hadiah!”

“Hore!!” teriak anak-anak serempak. Senyum bahagia mereka begitu mendamaikan hati Ayu. Mereka kemudian diizinkan untuk beristirahat sebelum memulai pelajaran baru.

Ayu bergegas menuju ruang guru yang tak lebih besar dari kamar pribadinya di Jakarta. Dengan cepat ia membuka pesan yang sejak tadi membuatnya penasaran.

Yu, apa kabar kamu, Nak? Udah berbulan-bulan nggak ada kabar.

Gadis bernama lengkap Dirgahayu Adinata itu tersenyum membaca pesan dari sang ibunda. Bibir tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca menahan bulir bening yang mungkin akan menetes sebentar lagi. Rasa rindu menyeruak dari dalam dadanya, sesak, sakit. Terhitung sudah lima bulan lamanya sejak ia bicara dengan orang tuanya melalui telepon. Itu pun ia harus berjuang mencari sinyal di kota yang masih terjangkau.

Bunda, Ayah, Ayu baik-baik aja di sini. Insya Allah sebelum bulan puasa Ayu ke

kota ya biar bisa telfonan sama Bunda dan Ayah. Ayu kangen banget.

Love you, Bunda, Ayah.

Ayu tak tahu kapan pesan balasannya akan terkirim, atau bahkan tak akan terkirim. Namun, satu hal yang ia yakini; doa tulusnya untuk kedua orang tua pasti akan sampai. Sebab cinta pada orang tua adalah hal yang utama bagi Ayu.

Tak mudah memang menjadi guru di daerah pedalaman. Tak hanya harus siap secara fisik, tetapi juga harus kuat secara mental. Mengingat daerah-daerah yang didatangi tidaklah mudah, baik dari segi akses jalan, listrik dan air yang sulit, menghadapi masyarakat dan budaya baru, serta berbagai tantangan tak terduga lainnya. Dan itulah yang dirasakan oleh Ayu. Gadis berparas cantik itu harus berpisah dengan keluarga serta orang-orang terdekatnya. Ia pun harus meninggalkan kehidupan kota yang selama ini memanjakannya. Pekerjaan ini benar-benar semakin membuka hati dan pikirannya, bahwa negeri ini masih sangat membutuhkan sosok guru untuk anak-anak Indonesia di daerah terpencil.

Ayu sedang menikmati bekal makan siangnya ketika rekannya sesama guru dari Jakarta datang menghampirinya. “Yu, ada surat nih buat lo,” ujar guru Matematika yang biasa disapa Pak Man itu. Ayu biasa memanggilnya Yusman, sesuai namanya.

“Surat? Dari siapa, Yus?” tanya Ayu menghentikan suapannya.

“Dari Gadis, kemarin gue ketemu dia. Katanya lo susah dihubungin. Ya gue jawab aja kalau sinyal di sini emang susah,” jelas Yusman. Senyum Ayu langsung merekah begitu mendengar nama sahabat karibnya itu. Selain kedua orang tuanya, ia juga sangat merindukan Gadis.

Yusman segera menyerahkan surat titipan Gadis. Setelah makan, Ayu baru membuka surat dengan amplop biru itu.

Woy, susah banget sih lo dihubungin!

Lo nggak tau gue kayak orang gila di sini nungguin kabar lo, Jarjit!

Ayu tak bisa menahan tawanya saat membaca kalimat awal surat Gadis. Biasanya surat akan diawali dengan salam, atau kata dear, atau hal lain yang lebih romantis. Namun, Gadis tetaplah Gadis, dan Ayu sudah sangat mengenal sahabatnya itu. Ayu melanjutkan bacaannya.

Yu, gue kangen … mau berapa lama sih? Lo nggak kangen sama gue?

Lo nggak kangen Ayah Bunda lo? Teman-teman lo? Mantan lo?

Tetangga lo? Kucing lo? Di sini kan juga banyak sekolah.

Ayu berhenti membaca. Ia kembali dibuat merenung oleh Gadis. Ya, ia sadar. Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tetapi sejak dulu Ayu memang ingin mengabdi di daerah pedalaman. Semuanya memang butuh pengorbanan. Bukankah Kartini juga melakukan pengorbanan? Hanya saja dalam hal yang berbeda. Kartini berkorban dan berjuang untuk emansipasi wanita. Keteladanannya membuat Ayu begitu mengidolakan wanita berdarah Jawa itu. Ayu tahu, keberadaannya di pelosok Aceh ini hanya mengubah sebagian kecil dari anak Indonesia. Tetapi bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali? Bukankah lebih baik menjadi guru pedalaman daripada menjadi guru di kota yang sering masuk berita karena melakukan hal yang tidak senonoh pada siswa? Atau lebih baik lagi dibanding orang-orang yang bekerja di gedung batok kura-kura yang super mewah dengan gaji selangit tapi tak berhasil mencerdaskan bangsa, yang ada malah korupsi di mana-mana.

Udah deh, gue nggak mau panjang lebar, lo tahu kan gue males nulis?

Pokoknya cepetan kasih kabar ke gue, nggak pake lama! See you….

Setelah membaca surat dari Gadis, Ayu membuka ponselnya dan melihat kembali pesan balasan untuk bundanya. Ternyata pesan itu belum terkirim. Ia berpikir untuk mengirim surat kepada orang tuanya serta Gadis. “Yus!” panggil Ayu.

“Hmm…,” respons Yusman yang sedang sibuk memeriksa pekerjaan rumah anak-anak.

“Kamu nggak ke Jakarta lagi?”

“Enggak,” sahut Yusman cepat. “Kemarin itu gue pulang karena Ibu mendadak sakit lagi. Itu pun cuma sehari pulangnya. Sekarang Alhamdulillah Ibu udah sehat,” lanjutnya.

Yusman masih fokus pada kerjaannya. Namun, melihat tak ada jawaban lagi dari Ayu, pemuda itu menoleh. “Why? Mau ngirim surat?”

Ayu mengangguk cepat. Sementara Yusman menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Nggak usah kirim surat, kasih kejutan aja sama keluarga. Tiba-tiba udah muncul di rumah, itu kan lebih surprise,” saran Yusman santai.

“Belum bisa, Yus,” lirih Ayu. Gadis itu menghela napas. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia pun tetap menulis surat balasan untuk Gadis, surat untuk orang tuanya, dan satu surat lagi yang ia persiapkan. Entah bagaimana cara mengirimnya, ia tak tahu. Ia hanya ingin menulisnya.

***

Dear, Ayah dan Bunda….

Apa kabar Ayah Bundaku? Ayu doakan selalu baik-baik saja.

Maaf ya cuma ngirim surat, Ayu belum sempat ke kota buat nyari sinyal.

Ayah Bunda jangan khawatir, Ayu bahagia di sini sama teman-teman dan

anak-anak. Ayu dapat banyak pengalaman luar biasa. Tapi Ayu juga kangen

banget sama keluarga di sana. Tunggu Ayu, ya. Salam sayang dari Ayu….

Air mata ayah dan bunda Ayu semakin deras setelah membaca surat dari putri satu-satunya itu. Jika sebelumnya Gadis yang dibuat menangis karena membaca surat dari Ayu, kini kedua orang tuanya yang dibuat tak mampu menahan air mata.

“Masih ada satu surat lagi,” lirih Yusman. Ada penyesalan dalam hati pemuda itu. Andai saja hari itu, tepatnya sebulan yang lalu ia membantu Ayu mengirim surat, mungkin Ayu akan mendapat surat balasan sebelum ia dipanggil Yang Maha Kuasa.

“Untuk siapa?” tanya Gadis yang matanya masih memerah sejak pulang dari pemakaman Ayu.

“Di sini tertulis, untuk wanita luar biasa,” jawab Yusman sembari membaca amplop putih di tangannya. Ia kemudian menyerahkan amplop itu pada Gadis untuk dibacakan.

Surat itu merupakan surat ketiga yang ditulis Ayu sebelum ia meninggalkan dunia karena kanker otak yang ia sembunyikan dari semua orang selama enam bulan terakhir. Tak ada yang menyangka ia mengidap penyakit mematikan itu. Senyumnya di depan teman-teman, masyarakat, serta anak-anak selalu menunjukkan bahwa ia sangat sehat dan bahagia. Hidup ini memang penuh rahasia, dan penuh pengorbanan.

Gadis mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop, lalu membacanya secara perlahan.

Untuk wanita luar biasa!

Jadilah wanita kuat, yang selalu semangat di setiap tempat.

Jadilah wanita cerdas, yang tak mau jadi budak kebodohan.

Jadilah wanita mandiri, yang tetap tegar meski hidup seorang diri.

Jadilah wanita tangguh, yang tak mengeluh meski banyak rintangan hidup.

Jadilah wanita penuh cinta, yang mencintai sesama manusia tanpa memandang

suku, ras, agama, sebab kita satu jua.

Jangan lupakan, masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita.

Negeri kita masih butuh wanita baik. Jadilah Kartini Masa Kini!

Jangan pernah takut berkorban untuk negeri yang lebih baik!

 

  • Salam cinta, Dirgahayu Adinata;

wanita biasa yang mengabdi menjadi guru.

 

*) Penikmat teh dan pecinta cokelat, biasa disapa Nissa. Gadis kelahiran 25 Februari ini memiliki hobi membaca novel, cerpen, dan komik. Penulis adalah mahasiswa di Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Tadulako. Instagram @nissahazul