Amarah Amirah

Oleh: Ikerniaty Sandili

Aku duduk di ranjang kayu yang sudah usang. Usia ranjang itu  mungkin lebih dari 20 tahun. Aku samar-samar mengingatnya. Hanya ada beberapa ingatan yang tajam, 15 tahun lalu, aku seringkali menyelonong masuk ke kamar, dan bermain di atas ranjang ini. Seorang perempuan berusia 25 tahun mungkin, sering menemaniku bermain. Aku diajarinya bermain bayangan dari tangan dan jari-jariku, menggambar apa saja, aku paling suka memintanya menggambarkan bebek dan bunga di kertas origami. Kertas itu ia yang belikan, lalu menyimpannya untuk menjadi tempat corat coretku.

Hampir 15 tahun itu pula, kamar ini, tidak pernah dibuka. Tidak ada siapapun yang berani masuk. Pintunya digembok, dan kuncinya hanya dipegang tante Nana, adik perempuan bapakku. Aku sendiri, sejak usia SD, suka sekali mengintip di kamar ini. Aku penasaran. Mengapa orang-orang tidak pernah membuka pintunya. Barulah tiga hari yang lalu tante Nana memberiku kunci gembok kamar.

“Ini untukmu, bukalah dan cari apa yang bisa kau temukan di dalam. Syukur-syukur ada barang berharga yang bisa membantumu kuliah, atau apa pun yang kau inginkan,” Tante Nana menyodorkan kunci mungil bertuliskan kodam.

“Untuk apa? Bukannya tidak ada yang berharga di dalamnya? Tante bilang di dalam kamar itu, hanya barang rongsokan. Ya, berarti sama dengan gudang, kan?” aku mengambil sapu, cuek pada tanteku.

“Kau selalu bertanya soal kamar itu, kan? Ya, paling tidak menjawab pertanyaanmu.” Tante Nana meletakkan kunci itu di atas lemari kuning yang tinggal beberapa bagian. Selebihnya sudah bersanding dengan bubur kertas. Aku tidak peduli perkataan Tante Nana. Bagiku, orang-orang di sekitarku terlalu acuh. Aku hanya sesekali berbincang dengan nenek dari bapak.

“Ibu Mita itu siapa?” suatu hari aku berani mengajukan tanya kepada bapak. selebihnya aku tidak pernah mau mengobrol lama. Aku tidak tahan bau alkohol menyeruak dari mulutnya. Meski pernah beberapa kali kucoba. Jangan tanyakan kenapa aku mencobanya, aku teramat penasaran karena melihat tumpukan Bir Bintang, dan mencium aromanya ketika mencuci gelas-gelas yang bapak pakai minum. Itu mungkin yang buat Tante Nana sedikit membenciku. Aku nampak liar.

“Jangan tanyakan lagi soal perempuan itu!” bapak menghardikku. Aku tidak ciut, suaraku malah semakin menandingi suara kerasnya. Bapak melempar cangkir yang ia  pegang. Pecah berkeping di lantai ubin kami. Ah bukan rumah kami, rumah itu warisan dari orang tua bapakku untuk pamanku, adik terakhir bapak. Bapak hanya diwarisi sebidang tanah yang sudah ia bangun rumah. Resmi ditempatinya sejak aku masuk SD. Dan aku memilih tinggal di rumah nenek ini, ketimbang berbaur dengan beberapa perempuan paruh baya, yang bergantian tidur di kamar bapak. Lelaki yang seumuran bapak juga seringkali memenuhi rumah besar bapak dengan botol-botol Bir Bintang mereka. Kadang mereka membawa pasangan masing-masing.

***

Pukul 2 siang, aku memberanikan diri membuka pintu kamar misterius itu. tidak ada siapapun. Besi gemboknya mulai berkarat. Aku meneliti kolong ranjang, bagian bawah meja, mengeluarkan satu persatu pakaian yang tidak kupahami modelnya dari lemari. Tidak kutemukan apa-apa. Aku terbatuk-batuk, debu di kamar itu luar biasa tebal. Aku memutuskan mengambil sapu, membersihkan kamar itu, dan berencana kujadikan kamarku. Mataku tertumpu pada beberapa buku tebal di atas meja. Sampul buku paling atas, berwarna merah dengan gambar seorang perempuan, judulnya AMBA. Aku tidak tertarik membacanya. Tanganku meraih kotak segi empat, membukanya dan menemukan surat.

Banggai Laut, 2007

Halo Amirah, ponakan Bibik yang suka sekali tersenyum. Ya, meski kadang-kadang sering sekali ngambek karena tidak diberikan ponsel untuk menonton kartun kesayanganmu. Pasti kamu bingung ya? Aku Marina, Bibikmu setelah Tante Nana. Aku menolak memiliki hubungan dengan bapakmu. Bagiku, saudaraku hanya Tante Nana, dan pamanmu. Tidak bapakmu. Satu-satunya yang masih kutandai ia sebagai manusia adalah karena ada kau.

Kau pasti kesulitan sekarang ya? Bapakmu masih sering mabuk? Sekarang siapa saja perempuan yang harus kau panggil mama? Saat aku menetap di rumah ini hampir 3 bulan sebelum memutuskan tanah Banggai haram kuinjak kecuali bapakmu tinggal bangkai, kau harus memanggil Mita dan Sartisebagai mama. Dan kau lupa sama sekali dengan Neni; ibu kandungmu sendiri.

Sebenarnya aku ingin membawamu bersamaku. Tapi bersikeras bapakmu menolak. Aku tidak ingin ribut. Jadi aku menyiapkan kisah ini untukmu. Kelak, ketika kita bertemu suatu waktu, aku akan cerita lebih detail, dan menjawab apapun yang kau tanyakan. Selagi kita belum berjumpa, kau bisa menjadikan surat ini temanmu, kecuali bapakmu telah berubah.

Neni, ibumu, adalah seorang janda yang sudah punya anak satu, laki-laki, namanya Fadil, ketika ia berhubungan dengan bapakmu. Ibumu hamil, dan bapakmu tidak menikahinya. Ibumu awalnya hendak menggugurkanmu, karena tidak mampu menahan malu. Tapi bapakmu menolak. Ia meminta ibumu mengandung dan melahirkanmu, dan kau akan diurus bapakmu ketika lahir. Mereka bersepakat. Tolong disini jangan kau salahkan Neni. Karena sungguh berat menjadi dia. Ia sampaikan kepada keluarganya, bahwa bapakmu bertanggung jawab dan menikahinya. Padahal ibumu hanya dibawa tinggal di rumah ini, hingga kau lahir.

Sehari-hari kerap kali ibumu makan seadanya, bahkan tidak makan. Padahal sedang mengandungmu, juga ketika menyusui. Bapakmu, manusia keparat itu seringkali mabuk-mabukkan, dan pulang dini hari tak sadarkan diri. Ia tidak peduli kondisi rumah, ibumu, dan kau, apalagi anak ibumu. Pada malam ia pulang mabuk entah keberapa, bapakmu menggauli ibumu, dan jadilah janin baru.

Karena tidak tahan lagi, ibumu juga seringkali kena pukul, ia keluar dari rumah ini. Pergi ke rumah keluarganya, tapi ia ditolak. Dan kalian ngekos, kau masih sangat bayi, dan ibumu hampir mati karena sakit. Kau akhirnya diadopsi pasutri dari Sanana. Pilihan ibumu hanya ingin kau berkecukupan. Setelah kau pergi ke pulau Ternate, bapakmu mencarimu, dan menuduh ibumu menjualmu. Sungguh kau teramat disayangi pada keluarga piaramu itu.

Sampai ini, kau mulai paham? Mari lanjutkan membaca tulisan ini sampai selesai.

Mita awalnya baby sittermu, yang digaji bapakmu untuk mengurusmu setelah kau dibawa pulang paksa dari Sanana. Tante Nana, dan seorang tantemu yang lain sempat mengurusimu bergantian. Tapi seringkali bapakmu mabuk dan berbuat onar. Dini hari kau sering diangkat dari ayunan, dan estafet ke tante yang satu untuk jaga. Bapakmu sekali lagi, tetap mabuk. Juga saat kau pertama kali masuk ke rumah ini, bapakmu merayakannya dengan temannya, mabuk sepanjang malam di teras rumah. Dan yang menahan ngantuk mengelonimu Tante Nana. Setelah perseteruan dengan Tante Nana, kau diasuh Mita. Lantas ia seperti ibumu. Gajinya 1 juta sebulan dibayarkan bapakmu, tapi bapakmu jadi menumpang hidup, pada Mita, seperti benalu. Kau diasuhnya 24 jam. Kalau kebutuhanmu habis, susu, popok, Mita akan mengambilnya dari uang 1 juta itu. juga kebutuhan sehari-hari, dua anaknya, ditambah si bangsat bapakmu.

Lalu Mita hamil 2 kali, dan dua kali pula mengugurkan kandungannya. Ia amat mencintai bapakmu. Bapakmu menolak menikahinya. Bapakmu tentu saja tidur dengan perempuan lain, Sulmi, Sri, dan entah siapa lagi. Tapi yang paling sering gantian ya Mita dan Sulmi. Kalau Mita tidak mengikuti keinginan bapakmu, ia akan dipukuli, tentu saja bapakmu mabuk. Ia tidak melaporkan bapakmu, tapi akhirnya memilih menikah dengan seorang duda, yang berkali-kali lipat lebih baik dari bapakmu. Tentu saja bapakmu galau, tapi bukan hal yang sulit. Ia masih bisa tidur dengan gratis pada perempuan yang ia sukai. Siapapun.

Setelah bertengkar hebat dengan bapakmu, aku memilih kembali ke tempatku bekerja. Kau masih 2 tahun lebih. Dan aku sungguh sangat merindukanmu. Aku begitu merasa bersalah, karena kau tidak diasuh baik oleh bapakmu. Sekarang kau punya berapa mama? Sungguh, aku diracuni rasa bersalahku karena tidak membawamu keluar dari kehidupan bapakmu. Aku bahkan melaporkan ke perlindungan anak, agar bapakmu diadili. Tapi ia kabur membawamu.

Ah, semoga aku salah ke depan. Bahwa kau hidup dengan baik. Bapakmu memprioritaskan pendidikanmu, dan kebutuhan lain daripada Bir Bintang dan perempuan-perempuan. Tapi kalau bapakmu masih sama seperti yang kuceritakan, jangan diam sayang, jangan. Pergilah ke Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, melaporlah. Sampaikan kau tertekan dan tidak nyaman. Saudara-saudara bapakmu, tidak dapat membantu. Bapakmu seperti dukun yang akan mengganggu tante dan pamanmu.

Aku menulis panjang sekali. Aku akan sudahi sampai disini. Kalau kau ingin keluar dari kehidupan bapakmu, kau bisa menghubungiku melalui email. Pergilah ke warnet, dan kirim pesan padaku; marinaramadani@gmail.com.

Salam sayang,

 

Bibik

 

***

Aku meremas surat dari bibik. Satu persatu apa yang dikatakan bibik membayang di mataku yang sudah kabur lantaran air mata. Kelakuan bapak, dan mengapa aku tidak punya kartu keluarga yang ada ibu. Kartu keluarga hanya ada aku dan bapak, sementara akta kelahiranku, hanya ada namaku dan Neni. Bertahun-tahun aku terganggu dengan tidurku di malam hari. Beberapa kali siang hari. Suara desahan-desahan erotis seringkali terdengar dari rumah bapak. Aku juga pernah memergoki bapak dan Sulmi, kadang perempuan lain, telanjang bugil dan sedang bersetubuh.

Sedang aku sendiri, aku telah tidak perawan sejak berusia 10 tahun. Bapak pikir aku haid di usia itu karena pendarahan. Padahal beberapa teman bapak melakukan itu padaku. Dan aku tidak berani bilang. Bapak selalu bersuara besar dan akan membunuhku jika ngawur bicara. Aku hanya boleh sekolah, pulang ke rumah waktu pulang, mengerjakan pekerjaan rumah, dan sekali-kali tidur dengan teman bapak.

Aku mengunci kembali kamar itu. Esok hari, aku tidak sekolah. Pagi-pagi aku mengendap keluar rumah, dan berlari sekuat tenaga dengan pakaian seadanya di tas sekolahku, dan berusaha secepatnya mencapai jalan raya. Aku menyetop bentor menuju warnet yang tidak jauh dari keraton. Kukirim sebuah pesan pada alamat surel yang bibik berikan.

Bibik, kurasa suratmu terlambat, dan kau bersalah dengan keputusanmu meninggalkanku. Aku akan melapor, dan padamu yang pertama kali. Aku telah membunuh laki-laki berengsek itu. Kuhujamkan pisau dapur yang habis kupertajam semalamam. Darahnya mengalir banyak dan menyelimuti tubuhnya yang telanjang bugil. Sementara seorang perempuan melihat jelas apa yang kuperbuat, dan aku membuatnya sama seperti bajingan itu. Kutinggalkan mereka tergeletak berdua. Aku membalaskan sakit hatimu, sakit hati mama Mita, dan ibuku. Terlebih sakit hatiku.