Atmosfir Webinar dalam Presfektif Anggaran

Oleh : Tutang Muhtar Kamaludin*

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal (QS At Taubah :51)”

Dalam presfektif  pakar kelimuan atau akademisi, musibah menjadi ladang intropeksi untuk berinovasi, musibah adalah tantangan untuk berkarya, tawakal tidak hanya berdiam diri, tetapi ada sebuah loncatan keilmuan sehingga menghasilkan karya atau langkah-langkah strategis supaya irama dunia pendidikan terutama di Perguruan Tinggi menjadi role model, dalam khazanah suri tauladan dalam effesien pengelolaan  anggaran sebuah even dalam norma kepercayaan (trust) dan kejujuran.

Pandemi Covid-19 membawa perubahan dalam sistem pengelolaan kegiatan  aktivitas akademik di Perguruan Tinggi baik dari sisi pembelajaran atau kegiatan Tridarma di Perguruan Tinggi.  Musibah corona menjadikan teknologi sudah mulai menjadi solusi efektif, untuk mengatasi berbagai masalah terutama yang sifatnya pertemuan virtual bukan hanya market bisnis tapi merambah di dunia Pendidikan. Saat ini di balik hikmah  musibah corona webinar adalah salah satu media yang mulai digunakan dalam aktivitas pengganti pertemuan secara langsung.

Webinar menjadi gairah baru, baik dunia bisnis, organisasi kemasyarakatan dan Perguruan Tinggi,  webinar adalah singkatan dari web seminar, yaitu seminar yang dilakukan melalui situs web atau aplikasi berbasis internet. Teknik seminar ini memungkinkan pembicara membagikan materi melalui media elektronik maupun internet. Rosenber (2001) dalam beberapa literasi tentang E-Learning atau internet enable learning, kita bisa melihat kegiatan virtual bukan wajah lama dalam dunia pendidikan, seharian pun selalu mewarnai komunikasi secara virtual lewat smartphone.  Universitas Terbuka dan Beberapa Universitas lainnya sudah terbiasa melakukan kuliah pembelajaran jarak jauh.

Webinar Budaya Baru New Normal

Geliat webinar menjadi pemandangan sehari-hari terutama di dunia Pendidikan Tinggi. Promosi atau perang e-flyer webinar begitu semarak di media sosial, apalagi dengan promosi free e-certificate menjadi daya tarik dengan dikemas tema, yang membuat calon partisipan terangsang untuk secepatnya registrasi dan tak kalah pentingnya menampilkan narasumber yang kapasitas kelimuannya tidak diragukan baik ditingkat Nasional, maupun International. Dengan hanya modal google form penyelenggara bisa memonitor dengan cepat calon partisipan yang akan berapartisipasi dalam event webinar. Dalam pengamatan penulis dalam waktu kurun tidak lebih 2×24 Jam, calon peserta tidak kurang dari 1000 orang yang siap berpartisipasi.

Analisis pembiayaan dengan peserta seribu orang, perlu energi, resources dan cost yang besar kalau diselenggarakan secara konvensional perlu ruang dan waktu untuk mempersiapkan. Webinar menjadi solusi untuk efesiensi anggaran tidak perlu energy, resources dan cost yang besar yang perlukan adalah komitmen dan kebersamaan untuk melangkah lebih baik

New Normal memberi ruang yang cukup luas untuk kita mempertahankan kegiatan webinar di Perguruan Tinggi. Efesiensi anggaran dan manfaat webinar dibandingkan Seminar tatap muka pada umumnya sangatlah terasa. Dalam konteks efesiensi anggaran hemat biaya. Dalam penyelenggaran webinar ini tidak perlu konsumi, tidak ada transportasi dan sangat fleksibel.  Siapapun dapat mengikuti Webinar ini di manapun berada, yang terpenting memiliki koneksi internet yang stabil, Webinar berinteraksi dengan banyak orang walau tidak bertemu langsung. Hanya bertatap muka di dunia maya, webinar juga dapat mengenal para Ahli di bidangnya.

Budaya baru dalam dunia pendidikan selaras dengan UU Nomor 15 Tahun 2017, salah satu prinsip dalam penganggaran adalah efisiensi. Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa pengertian efisiensi berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional dapat dikatakan efisisen apabila suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan dana yang serendah-rendahnya (spending well).

Dalam kajian anggaran pembiayaan, webinar menjadi solusi penghematan biaya, tidak adanya komponen perjalanan dinas narasumber, penyediaan snack dan makan ditiadakan, alokasikannya anggaran untuk capacity building pembelian aplikasi yang menunjang webinar dan honor narasumber. Pada intinya, pencapaian output dapat dicapai dengan mengoptimalkan jam kerja.

Akuntablitas dan Kinerja Anggaran

Webinar dari sisi akuntabilitas dalam kinerja Anggaran merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. “Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik” (Gibson, 2002). Selain itu, kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dari usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam situasi tertentu. Sehingga kinerja tersebut merupakan hasil keterkaitan antara usaha dan kemampuan. Adapun yang menjadi ukuran dan tingkat kinerja organisasi publik dalam melaksanakan kegiatan webinar bisa dalam tafsir kajian  sebagai berikut:

  1. Webinar dari sisi produktivitas. Konsep webinar dari sisi produktivitas mengukur tingkat efisiensi waktu, biaya , dan juga webinar mengukur efektivitas pelayanan.
  2. Webinar dari sisi Akuntabilitas. Menunjukan pada seberapa besar kebijakan Perguruan Tinggi dengan sivitas akademika dan pelayanan Tri Dharma Perguruan Tinggi, akan selalu mempersentasekan kepentingan layanan perguruan tinggi dengan maksimal
  3. Webinar dari Efisiensi. Menyangkut pertimbangan tentang keberhasilan Perguruan Tinggi, memanfaatkan faktor- faktor produksi atau output serta pertimbangan yang berasal dari rasionalitas ekonomis.
  4. Webinar dari sisi Efektivitas. Perguruan Tinggi dalam masa pelayanannya selalu erat kaitannya organisasi rasionalitas teknis, nilai, visi dan misi Perguruan Tinggi, memanfaatkan faktor-faktor, yang mempengaruhi pertimbangan yang berasal dari rasionalitas. Pemanfaatan Teknologi yang meliputi peralatan kerja dan sistem manajemen kinerja dengan menghasilkan produk tertintegrasi dengan sistem

Komitmen dan Loyalitas

Dalam new normal kita lebih dituntun komitmen untuk mau merubah kebiasaan-kebiasan pertemuan secara langsung atau terlalu mengandalkan formalitas belaka padahal output yag dihasilkan dengan kegiatan virtual tetaplah sama,  kegiatan seminar nasional, seminar interntional dan konfrensi international katakalah outputnya adalah terbitnya sebuah tulisan atau publisnya sebuah karya ilmiah, dari sisi anggaran dan energi luar biasa variabel anggaran yang dibutuhkan dari mulai persiapan, sampai dengan tahapan pelaksanaan, dari kebutuhan entertaiment tari-tarian, penyambutan, sewa hotel, sewa mobil, bayar narasumber, bayar untuk even organizer, tapi telaah yang dihasilkan kegiatan webinar komponen pembiayannya hanya komitmen dan loyalitas mau berbuat untuk Perguruan Tinggi.

Energi terbesar dalam webinar ini adalah komitmen dan loyalitas terhadap institusi, karena dari sisi anggaran hanya pembayaran narasumber yang ada dalam mata anggaran keuangan, tetapi kalau kita punya network yang bagus dengan jaringan Perguruan Tinggi di Indonesia atau berafiliasi dengan jaringan organisasi dosen indonesia, masih banyak orang baik di Indonesia yang mau mewakafkan waktu, ilmu dan fasilitas meetingnya tanpa bayaran sediktit pun.

Penulis berapa kali melakukan event Webinar dengan biaya cost Rp.0, artinya apa komitmen loyalitas dan kesungguhan untuk efesiensi anggaran di Perguruan Tinggi bukanlah keniscayaan, kita manfaatkan dana tersebut demi kepentingan yang lebih besar, berikan peran yang terbaik untuk mahasiswa sebagai stakeholder terbesar di Perguraun Tinggi, berikan fasilitas terbaik untuk mahasiswa, mari kita jadikan mahasiswa nyaman di tempat dimana menggantungkan cita-cita dan harapanya di Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Tadulako, Jayalah Tadulakoku. . It’s an immpossibility to be perfect but it’s possible to do the best.” (Sebuah ketidakmungkinan untuk menjadi yang sempurna tetapi sangat memungkinkan untuk melakukan yang terbaik), barakallah.

*Penulis : Dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako