MURTRY WAHYUNINGSIH “Selesaikan Studi dalam Tempo Sesingkat-singkatnya”

Menjadi mahasiswa berprestasi dan lulus cepat (cumlaude) adalah impian banyak orang, begitu juga dengan Murtry Wahyuningsih, mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan dan Perikanan (FAPETKAN) Universitas Tadulako (UNTAD), Ia menyandang gelar Sarjana Peternakan (SPt) di belakang namanya setelah menjadi lulusan tercepat saat diyudisium pada Kamis, 2 Juli 2020,  dengan total masa studi 3 tahun 2 hari serta memperoleh indeks prestasi kumulatif 3,95.

Murtry sapaan akrabnya, perempuan yang lahir di Palu pada tanggal 7 Mei 2000, dari pasangan Ir Mura MSi (ayah) dan Syamsiar Fitri SPd MPd (ibu), merupakan pribadi yang sudah mencintai dunia hewan sejak kecil. Karena kecintaan itulah, ia sangat tertarik masuk Jurusan Peternakan, Untad.

Gadis pecinta warna merah muda itu bertutur bahwa keluarganya merupakan penduduk pendatang. Ayahnya berasal dari Morowali sedangkan ibunya dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Bercerita mengenai dunia pendidikan, Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres 1 Tondo, SMP dan SMA Al-Azhar Mandiri Palu. Setelah lulus jenjang sekolah menengah atas, Muty melanjutkan pendidikannya di Untad.

Di awal perkuliahan Ia memilih masuk di International Class, yakni kelas favorit di Prodi Peternakan, Fapetkan Untad. Di masa awal kuliah, dirinya sudah mulai menyusun target untuk menyelesaikan studi lebih cepat dari mahasiswa biasanya. Hal tersebut karena selalu mengingat pesan Ibunda tercinta untuk selalu tekun belajar dan menghasilkan prestasi yang membanggakan.

Namun meskipun sibuk menimba ilmu dengan serius di bangku kuliah, Wanita yang bercita-cita menjadi seorang dosen tersebut tetap aktif untuk mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Ia merupakan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAPETKAN Untad dengan menjabat sebagai Koordinator Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) periode 2019-2020. Menurutnya mengikuti organisasi merupakan hal yang penting untuk mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman selama di kampus.

“Dari semester 2 saya ikut organisasi BEM, ikut organisasi karena saya merasa memang perlu organisasi dalam hal pengembangan diri. Apalagi saya orangnya tidak mudah bergaul dan sedikit tertutup, jadi saya merasa dengan masuk organisasi bisa sedikit merubah sifat saya. Sebenarnya organisasi ini tidak mengganggu usaha saya untuk mencapai target, karena saya tetap memprioritaskan kuliah saya. Tinggal bisa manajemen saja, seperti jika saya mau ikut kegiatan saya harus selesaikan terlebih dahulu tugas perkuliahan, jadi begitu ada kegiatan tugas tidak numpuk dan tidak pusing lagi dengan tugas-tugas kuliah,” ungkap putri sulung dari 4 bersaudara itu.

Ketika ditanya mengenai usahanya bisa selesai, dengan semangat Ia menjelaskan bahwa dirinya banyak melakukan pengorbanan terkait waktu, dimana Ia harus merelakan waktu kosongnya untuk berdiskusi dengan senior-senior dan dosen pembimbingnya ketika berada di kampus. Ia juga menceritakan bahwa hari libur sekalipun Ia manfaatkan untuk belajar dan mengerjakan penelitiannya.

“Saya termotivasi dari senior yang bisa lulus dengan masa kuliah 3 tahun 1 bulan kala itu. Kemudian dari situlah awalnya, saya juga pengen seperti itu, bisa lulus dengan cepat. Maka  mulailah saya mencari tau cara yang dilakukan senior saya dan menargetkan untuk bisa selesai 3 tahun 1 hari. Dosen yang menjadi pembimbing saya juga mengatakan bahwa saya bisa mengikuti jejak kakak senior. Saya juga harus merelakan waktu kosong dan libur untuk berdiskusi dengan Dosen Pembimbing dan mengerjakan penelitian saya. Ketekunan dan semangat yang luar biasa hingga bisa mendapatkannya, lulus 3 tahun 2 hari, hingga terwujud keinginan oleh banyak orang yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya,” tutur gadis 20 tahun itu dengan garis senyum di wajahnya.

Kemudian, Ia mengungkapkan bahwa dalam prosesnya menyelesaikan studi, tidak sedikit kendala yang ia dapatkan. Namun Ia selalu mendapatkan support dari lingkungannya untuk tetap semangat mengejar apa yang sudah menjadi targetnya.

“Begitu banyak tantangannya, beban jadi bertambah karena harus kuliah sambil meneliti. Tapi, saya mendapat banyak dukungan dari dosen-dosen pembimbing, orang tua, dan teman-teman. Mereka yang selalu memotivasi dan mengingatkan saya. Jadi semester 5 itu saya bergelut dengan laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) sama proposal, sempat stress juga karna harus kerja laporan PKL dan proposal sekaligus. Belum lagi waktu itu saya jadi asisten praktikum. Kemudian di awal semester 6 di bulan April saya sudah ujian proposal, usai proposal langsung disambung penelitian. Lalu sambil penelitian saya mengolah data. Jadi, begitu selesai penelitian, data saya juga sudah selesai diolah. Kemudian saya langsung bisa susun skripsi, dan berselang 1 bulan saya sudah ujian hasil. Hingga akhirnya selang 1 minggu saya bisa maju ujian skripsi,” jelasnya sambil tersenyum.

Murtry mengaku bahwa dirinya tidak sependapat dengan mahasiswa yang menganggap bahwa semakin lama di kampus maka semakin banyak mendapat pengalaman. Menurutnya dengan bahwa lulus cepat bisa menjadikan dirinya juga mendapatkan pengalaman baru, karena akan ada banyak waktu untuk bisa mendapatkan pengalaman baru yang lain setelah menyelesaikan studi.

Di akhir perbincangan, ketika ditanya tentang rencana selanjutnya, sambil tersenyum Ia mengatakan bahwa dirinya akan mencari beasiswa untuk melanjutkan studi sambil kursus. Nanti kita liat rejekinya S2 dimana nantinya heheh.” RR