Turunkan Prevalensi Stunting, FKM Untad Lakukan Penelitian Ekstrak Daun Kelor

Ket. Foto: Foto bersama selepas FGD (Foto: Dok. Rosmala/Narasumber)

Rabu, (08/07) – Turunkan prevalensi stunting, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Tadulako (Untad) bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), laksanakan penelitian terkait “Efek Ekstrak Daun Kelor Terhadap Peningkatan HB Ibu Hamil Masa Covid-19”. Penelitian tersebut dilaksanakan 3 kali selama tiga bulan di Laboratorium Parigi.

Dalam  pembukaan Focus Group Discussion (FGD), Sekretaris Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbanda) Kabupaten Parimo, Irwan SKM MKes menyampaikan bahwa penelitian tersebut harus dijaga dan ukur secara akurat, ia juga menambahkan apabila berhasil, hasil riset dapat menurunkan angka stunting.

“Penelitian ini betul-betul harus dijaga dan diukur secara akurat, sehingga dapat terlihat hasilnya secara signifikan. Hasil riset ini apabila berhasil, maka kelor sebagai tanaman lokal Kabupaten Parimo dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan HB Ibu hamil yang berpengaruh pada penurunan stunting,” tuturnya.

Sementara itu, Dr Rosmala Nur MSi selaku Ketua Peneliti menjelaskan, bahwa latar belakang penelitian yang diadakan melihat dari prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, terutama di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Prevalensi stunting di Indonesia cukup tinggi, yakni sebesar 33,6 %, sehingga Indonesia urutan 5 di dunia, dengan presentase 32,3 % di Sulteng, dan 33,7 % di Kabupaten Parimo urutan ke 6 di Sulawesi Tengah. Salah satu determinan penyebab stunting adalah kadar HB ibu hamil, yang kemudian akan mempengaruhi panjang bayi yang dilahirkan,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, semakin tinggi HB, semakin panjang bayi yang dilahirkan, anemia bumil dapat menyebabkan gangguan oksigen dan zat makanan ke plasenta dan janin yang berpengaruh pada fungsi plasenta. Ia juga menuturkan bahwa penelitian yang dilakukan mengambil 40 sampel ibu hamil.

“Dengan menganalisis efek ekstrak daun kelor, kami mengambil sampel 40 ibu hamil yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi diberi kapsul ekstrak daun kelor dan kapsul FE setiap hari, sedangkan kelompok control hanya diberikan kapsul FE,” tuturnya.

Kemudian, Dr Rosmala berharap bahwa peneliti dapat berkerja sama dengan baik pada semua pihak yang terkait agar penelitian ini dapat berjalan lancar. Ia juga mengatakan bahwa hasil riset menunjukan hasil yang baik.

Alhamdulilah, riset ini menunjukan bahwa ekstrak daun kelor berpengaruh pada kenaikan kadar HB ibu hamil pada masa Covid-19. Hal ini juga akan berpengaruh pada penurunan stunting di Kabupaten Parimo,” tutupnya. Adr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here