UPT Bahasa Sebagai income generating unit, Kepala UPT Bahasa Harapkan Kerja Sama dari Berbagai Pihak

Ket. Foto: Prof Konder Manurung DEA PhD selaku Kepala UPT Bahasa Universitas Tadulako (Foto: Dok. Konder Manurung/ Narasumber)

Dalam rangka merealisasikan program kerja UPT. Bahasa dan meningkatkan kontribusinya terhadap Universitas Tadulako (Untad), UPT. Bahasa sebagai unit pelayanan kebahasaan, terlebih dalam melayani terjemahan Tugas Akhir (TA) mahasiswa, mendorong dan mengajak seluruh fakultas maupun pascasarjana untuk dapat bekerja sama (16/07).

Kebijakan pimpinan Untad dalam menghasilkan lulusan yang kompetitif dengan mengembangkan Panduan Penulisan Karya Ilmiah khususnya TA mahasiswa baik S1, S2, maupun S3 yang memuat bahwa paling sedikit sampul dan abstrak Skripsi (S1), Tesis (S2), dan Disertasi (S3) diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, sangat sesuai dengan tuntutan world class university. Hal ini sangat mendukung semakin terjaminnya diseminasi hasil penelitian mahasiswa Untad yang dapat diakses oleh dunia internasional.

“Untuk menertibkan penerjemahan TA mahasiswa dalam merealisasikan program kerja UPT Bahasa dan meningkatkan kontribusinya sebagai income generating unit terhadap Untad, diperlukan kerja sama pimpinan universitas, pimpinan fakultas, dan UPT Bahasa,” tutur Prof Konder Manurung DEA PhD, selaku kepala UPT Bahasa Untad.

Ia menjelaskan bahwa, berdasarkan data yang diperoleh dua bulan terakhir dari berbagai sumber, sebagai contoh pada lulusan Untad tahun 2019, hanya 679 dari 7937 lulusan atau 8,55% saja lulusan yang menerjemahkan Abstrak TA di UPT Bahasa.

“Terdapat 91,45% atau 7258 lulusan menerjemahkan abstrak kepada oknum tertentu yang sama sekali tidak memberikan kontribusi kepada Untad. Persentase terjemahan abstrak per fakultas berdasarkan jumlah wisudawan pada tahun 2019,” jelasnya.

Berdasarkan survey yang dilakukan dari berbagai sumber di tahun 2019, menunjukkan bahwa dari total 7.937 wisudawan, hanya 679 yang menerjemahkan abstrak TA di UPT Bahasa.

“Berdasarkan survey yang dilakukan, menunjukan bahwa sangat perlu sinergitas pimpinan universitas dan fakultas untuk memotivasi mahasiswa yang sedang menuliskan TA untuk menerjemahkan abstrak TA di UPT Bahasa,” tutur Konder.

Persentase yang sangat rendah penerjemahan abstrak TA di UPT Bahasa mengisyaratkan bahwa banyaknya uang mahasiswa jatuh kepada oknum/ individu dan bukan kepada Untad. Hasil wawancara secara informal dengan beberapa orang mahasiswa yang sudah selesai TA, ketika datang meminta dengan meminta stempel/ cap pada abstrak yang sudah diterjemahkan di luar UPT Bahasa, mendukung data survey.

“Mereka menyampaikan bahwa mahasiswa membayar oknum/ individu bahkan di program studi tertentu mencapai angka yang sangat mahal, untuk menerjemahkan abstrak skripsi. Biaya ini berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan biaya dari UPT. Bahasa. Biaya terjemahan di UPT Bahasa merupakan kontribusi UPT Bahasa, sebagai income generating Unit ke Untad,” lanjutnya.

Konder mengatakan, untuk menjadikan UPT Bahasa sebagai UPT yang berfungsi melayani kebahasaan dalam lingkungan Untad, dan sekaligus sebagai income generating unit bagi Untad, serta menghindari image negative mahasiswa terhadap penerjemah individu dalam lingkungan Untad, perlu sosialisasi di tingkat fakultas, tentang penerjemahan abstrak TA satu pintu di UPT Bahasa. UPT Bahasa Untad siap melaksanakan yang terbaik melayani terjemahan abstrak TA dan karya ilmiah lainnya.

“Kami sudah mengirimkan surat kepada Warek Bidak agar dibuatkan edaran ke fakultas-fakultas sebagai bahan sosialisasi tentang penerjemahan abstrak TA di UPT Bahasa. Serta terjemahan abstrak TA yang dilampirkan di skripsi harus dicap dengan cap/ stempel UPT Bahasa agar tidak terjadi penerjemahan yang tidak resmi, dan juga UPT. Bahasa adalah penerjemahan resmi di Untad melalui SK Rektor,” ungkapnya.

Kepala UPT Bahasa berharap, agar setiap pimpinan fakultas maupun pascasarjana, dapat mendorong mahasiswa dengan menyampaikan agar abstrak TA maupun artikel ilmiah yang membutuhkan Bahasa Inggris, dapat diterjemahkan di UPT Bahasa.

“Setiap pimpinan fakultas dan pascasarjana menyampaikan kepada mahasiswa agar abstrak TA dan artikel ilmiah yang dibutuhkan Bahasa Inggrisnya, diterjemahkan di UPT Bahasa, sehingga tidak ada persepsi di masyarakat bahwa biaya terjemahan, khususnya abstrak TA di Untad bervariasi dari satu program studi ke program studi yang lain,” tutupnya. Adr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here